Minggu, 06 November 2016

Jepang Rasa Jatinangor

Padatnya rutinitas dan tugas kampus yang menumpuk, sering kali membuat kepala ini terasa pening. Ingin rasanya sedikit refreshing atau hanya sekedar jalan-jalan melepas penat. Tapi kemana, lalu budgetnya? Hingga pada suatu hari, Hakim memposting sebuah poster yang menarik perhatian kami semua.



"Waah, ada festival kebudayaan jepang!"
"Kayaknya bakal seru tuh!"
"Kita kesana yuk, hitung-hitung refreshing,"
"Ayo... Ayo,"
"Asyik, kita mau piknik!"

Semua orang sudah sepakat mau ikut. Kini tinggal menentukan waktu yang tepat untuk melakukan reservasi. Ternyata, kami mendapatkan jadwal hari jumat sekitar pukul 10-11 siang. Untuk itu, kami sudah janjian di shelter bus DAMRI Dipati Ukur sekitar pukul 8 pagi. 
Sayangnya kesibukanku di pagi hari membuat aku merasa kesulitan untuk bisa datang tepat waktu. Ditambah adanya pasar dadakan di seputaran kompleks PUSDAI membuat perjalanan ini semakin tersendat. 
Aah, maafkan aku, genks... 
Maka pada saat aku datang, kami langsung naik bus DAMRI trayek Dipati Ukur - Jatinangor via Tol M. Toha yang masih kosong. Sebelum penumpang lain datang, kami sibuk berfoto selfie. Maklum saja, Indah dan Huda baru pertama kalinya naik bus DAMRI. Sedangkan aku dan Hakim memang sudah terbiasa dengan alat transportasi yang satu ini.
"Waah, ternyata nyaman juga naik bus DAMRI seperti mobil pribadi!" celutuk Huda.
Saking nyamannya perjalanan dan sejuknya AC membuat Indah hampir ketiduran, kalau saja tidak kami ganggu.




"Ayolah, perjalanan hanya sekitar 1-1,5 jam. Masa tidur juga?"
"Iya ih, mening nikmatin perjalanannya. Kapan lagi?"
"Bener, mending kita beli Tahu Sumedang saja buat oleh-oleh, hehehe..."
"Kan ceritanya kita lagi liburan di Jepang, kenapa malah beli tahu Sumedang?"
"Iya juga ya, ahaha..."
"Lagipula gimana mau belinya, toh bus DAMRI nya juga tidak berhenti didekat pedagang tahu, wkwkwk.."

Tiba di tempat tujuan, terik mentari mulai terasa menyengat. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah berkunjung lagi ke kampus ini. Namun bagiku, suasananya tidak banyak berubah, masih tetap gersang seperti dulu.
"Waah, luas sekali kampusnya! Bisa tersesat kalo begini caranya,"
"Iya, beda banget sama kampus kita tercintah, ahahaha.."
"Pst, jangan pasang tampang bengong dan ndeso kaya gitu, malu-maluin!"
"Iya, pasang tampang pede aja, pura-pura jadi anak UNPAD beneran." 
Diantara kami berempat, mungkin hanya aku seorang yang paling familiar dengan situasi di tempat ini. Aku pun mengajak mereka bertiga menuju ke tempat tujuan semula, yakni PSBJ (Pusat Studi Bahasa Jepang). 
Kami melangkah santai sambil menikmati pemandangan di sekeliling. Tidak sedikit orang yang berpapasan dengan kami. Mereka juga pasti punya tujuan sendiri, sama seperti kami. 
"Klo itu kendaraan ke arah mana? Ko, berada di lingkungkan kampus?"
"Kendaraan yang mana?"
"Itu lho yang kita lihat saat memasuki gerbang depan?"
"Mmm, aku kurang tahu. Soalnya dulu belum ada,"
Beberapa kendaraan serupa tampak berlalu lalang di dekat kami, sambil membunyikan klakson sekali-kali. Usut punya usut ternyata semua kendaraan itu memang transportasi gratis yang disediakan pihak kampus untuk mahasiswa dan semua civitas akademik.
"Waah enak banget ya, nggak usah cape-cape jalan kaki menuju tempat kuliah."




"Berarti, orang-orang yang bergerombol di pintu gerbang tadi itu menunggu mobil gratis ya? Ah, kenapa nggak ikutan saja biar nggak cape jalan."
"Iya, ntar disapa sapa supirnya. Mau ke mana? fakultas apa? angkatan tahun berapa? Tinggal celingukan sendiri dah, hahaha..."
"Pantesan aja, mobil-mobil itu ngelaksonin, disangkanya kita mau ikutan naik, wkwkwk.." 
Sampai di PSBJ kami kebingungan, ternyata event festival kebudayaan jepang itu tidak hanya sesi foto saja. Ada pameran, seminar, makan-makan dan masih banyak lagi yang lainnya. Ups, jangan digaris bawahi point makan-makannya. Maklum saja, kami datang jauh-jauh dari Bandung sejak pagi dan belum sarapan.
Setelah kasak kusuk dan tanya sana sini, rupanya kami salah tempat. Sesi foto ala Jepang yang akan kami ikuti berada di Studio Foto. Lalu, di mana studio fotonya? Untunglah salah seorang panitia mengantarkan kami ke tempat yang di tuju. 
Tapi ternyata, bukan studio foto seperti yang ada dalam bayangan kami. Namun berupa rumah tradisional khas jepang dengan segala aksesoris ala jepang lainnya, seperti kimono, yukata, samurai dsb. 
Peserta sesi foto memang tidak banyak namun kami harus mengantri untuk menunggu giliran. Padahal waktu sholat jumat sudah semakin dekat. 
"Aah semoga waktunya masih cukup buat sholat jumat, ya!"
Sebelumnya, kami diminta mengenakan yukata yang telah disediakan panitia. Kami boleh memilih warna yang kami suka. Untunglah ada beberapa orang panitia yang membantu kami memasangkannya dengan sigap. Coba kalau memasang sendiri, pasti nggak akan kelar mpe sore, hehe..






Usai sesi foto, Huda dan Hakim bergegas menuju mesjid kampus. Sementara aku dan Indah menunggu keduanya di rerumputan yang ada di pelataran mesjid, sambil menikmati bekal seadanya. Begitu mereka selesai, giliran kami berdua yang shalat dhuhur.
Hari sudah semakin siang, tapi kami tidak ingin segera pulang. Kami masih ingin menikmati suasana kampus yang sudah tidak asing lagi di negeri ini, sambil menikmati beberapa jajanan yang sudah kami beli di dekat kampus. 
Sekitar pukul 2 siang, kami beranjak pulang sebelum hujan gerimis semakin menderas. Kali ini, suasana bus DAMRI jauh lebih penuh dari saat pergi, tadi pagi. 
Pengalaman hari ini memang sederhana atau mungkin menjadi hal yang lumrah bagi orang lain, tapi menjadi hal yang berkesan bagi kami.  



Jatinangor 7 Oktober 2016





Rabu, 14 September 2016

Korea IT Volunteer part 3

Main sudah, mencicipi kuliner juga sudah. Tapi kalau belum menyempatkan diri jalan-jalan di kota Kembang? Rasanya, masih ada yang kurang. Padahal Bandung dikenal dengan keindahan alamnya.
Kali ini kami mengajak Bonchul Shin, cs berjalan-jalan menuju ke Taman Hutan Raya Ir H Juanda Bandung. Alasannya, pertama dekat dengan kampus. Kedua Taman Hutan Raya Ir H Juanda merupakan salah satu tempat bersejarah yang dimiliki bangsa Indonesia.
Seperti di hari minggu lainnya, lingkungan kampus kami memang menjadi salah satu bagian dari kawasan Bandung Car Free Day. Sehingga akses jalan menuju kampus cukup tersendat. Maka dari itu, kami akan cukup kesulitan untuk sampai lebih cepat di kampus seperti hari-hari biasa.
Apabila ada sebagian dari kami yang menggunakan kendaraan bermotor, dia harus datang sebelum ataupun sesudah acara Bandung Car Free Day itu berlangsung. Jika tidak, dia harus menuntun motornya dari arah atas (Simpang Dago) maupun dari arah bawah (Gazibu - jembatan Pasopati).
Begitu pula dengan teman-teman yang menggunakan kendaraan umum. Mereka juga harus turun di kedua tempat tadi. Lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sambil menikmati suasana Bandung Car Free Day  yang segar dan ramai.
Nah sambil menunggu teman-teman lain yang belum datang, kami mengajak Bonchul Shin, cs berjalan-jalan di sekitar kampus. Mereka berempat terlihat cukup senang dan antusias. Hampir saja, kami kehilangan jejak mereka karena ikut berbaur diantara warga Bandung dan pengunjung Car Free Day.
Tanpa disangka, kehadiran Bonchul Shin, cs mengundang berbagai reaksi dari para pengunjung Car Free Day. Ada yang terus memperhatikan tanpa berkedip. Mungkin, dia merasa tidak percaya bisa melihat orang Korea secara langsung. Padahal biasanya dia hanya melihat orang Korea melalui tayangan K-Drama atau K-Movie di televisi.
Ada pula yang memberanikan diri menyapa mereka dengan bahasa Korea seadanya, Anyeong. Namun ada sebuah kejadian lucu yang mengundang senyum kami. Yakni ketika seorang anak kecil berlari-lari mencoba mengejar langkah kami.
Dengan nafas yang terengah-engah, dia menyodorkan pena dan selembar kertas pada Park Geon Dok. Tentu saja Park Geon Dok kebingungan, sementara dirinya tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali.
“Maybe, he want ask your signature,” saran Bonchul Shin
“Ooh.. My Signature?” tanya Park Geon Dok heran.
Biar begitu, dia tetap menuruti saran sahabatnya. Membubuhkan tanda tangan dengan beberapa kata berbahasa korea pada kertas tadi. Sedangkan anak itu terlihat sangat puas. Tak lama kemudian, sosoknya sudah kembali menghilang, dengan sebuah senyuman terkembang dari raut wajahnya yang menggemaskan.
Seriously, he thought I was an artist.” kelakar Park Geon Dok. Kami semua tertawa. Perjalananpun dilanjutkan kembali. Kali ini kami melewati sebuah toko sport yang sengaja membuka lapak di luar toko.
“Wait for me. Just for a minute, okey?”  Pinta Bonchul Shin.
“Please wait for me! Only a while,” katanya lagi.
“Okey. No problem,”
Dia berlari kecil meninggalkan kami, lalu ikut berbaur dengan pengunjung lain dan memilih beberapa t-shirt. Sedangkan Park Geon Dok hanya memperhatikan ulah sahabatnya.
“Ah, what he is doing?” gerutunya
Namun lama kelamaan Park Geon Dok menghampiri sahabatnya, lalu ikut memilih t-shirt juga. Ah, mereka berdua ada-ada saja. Tapi ngomong-ngomong di mana Hye Min dan Aceng? Ternyata keduanya sedang asyik mencoba kuliner khas Bandung di seberang jalan.
“Thank you, has waiting for me,” katanya senang.
“Never mind. we are happy to enjoy the atmosphere like this,” balasku
In this place,  the stuff is more cheaper. I buy two t-shirt,” ujar Bonchul Shin.
“I buy one too,” ucap Park Geon Dok tak mau kalah.
Kami kembali tertawa.
Ah senangnya bisa menikmati suasana pagi yang segar seperti ini. Sangat nyaman karena tidak ada kendaraan.
“Any moment like this in Korea?” tanyaku ingin tahu.
“Yes, we have too. But just three or four times for a year,” jawab Bonchul.
“Oh ya? In our city, Car Free Day event like this is routinely done every Monday , for many years.”
Ah how happy to be a citizen of Bandung . In addition to the comfortable atmosphere and cool, the people are also welcoming and friendly,” ucap Bonchul.
 What do you like living in Bandung,”
 “Of course. I’m want stay in here forever and became a part this city.”
“Really,”
Bonchul mengangguk pasti sambil melemparkan senyum pada kami.
******

Hari sudah semakin siang, sehingga kami putuskan untuk kembali ke kampus. Siapa tahu, teman-teman yang lain sudah menunggu. Sayangnya, belum belum ada siapa-siapa di kampus. Hingga akhirnya, kami putuskan untuk pergi ke Taman Hutan Raya Ir H Juanda saat itu juga.  


Awalnya, kami akan menyewa angkot sampai terminal Dago. Sayangnya, jarak antara  terminal Dago dengan pintu gerbang Taman Hutan Raya Ir H Juanda cukup jauh. Sehingga kami putuskan untuk menggunakan motor saja. Namun karena jumlah kami yang ganjil, tetap saja kami kebingungan untuk pergi. Hingga akhirnya diputuskan, sebagian dari kami ada yang naik angkot. Dengan catatan, siapa yang datang duluan akan menjemput kami di terminal Dago.  
Sayangnya kami terlalu asyik menikmati keadaan di sekeliling Taman Hutan Raya Ir H Juanda, hingga lupa berfoto. Aah bukan begitu, justru mereka yang terlalu asyik berfoto hingga melupakan aku yang menjadi juru foto dadakan buat mereka, ahaha.. 


Dari Taman Hutan Raya Ir H Juanda, kami lanjutkan perjalanan menuju ke Maribaya. Karena kebetulan jalurnya searah. Kami sengaja memilih berjalan kaki untuk menuju ke sana. Selain bisa menikmati pemandangan di sekeliling, kami juga bisa mengobrol santai. Sehingga kami bisa melupakan lelah selama perjalanan.



 
Suasana Maribaya yang tenang dan sejuk membuat kami betah dan tidak ingin pulang. Tanpa terasa, hari sudah semakin sore. Pantas saja badan ini sudah mulai kelelahan dan kelaparan, sudah saatnya kami pulang.
Terima kasih atas kebersamaannya. Kenangan hari ini, tidak akan terlupakan hingga kapanpun..



Bandung, Agustus 2014






Rabu, 20 Juli 2016

Demi Semangkuk Ramen

Terkadang, aku tidak habis pikir dengan kebiasaan masyarakat kita. Pemikiranku yang kuno, ataukah penafsiran yang salah sudah menjadi hal lumrah? Kita ambil contoh dalam bulan ramadhan seperti saat ini. Buka bersama menjadi salah satu agenda wajib yang diprioritaskan orang. Sesibuk apapun seseorang, dia selalu berusaha meluangkan waktunya untuk bisa ikut acara buka bersama

Bagi sebagian orang, buka bersama itu diidentikkan dengan berbuka puasa di luar bersama teman-teman, sahabat, ataupun rekan kerja. Bahkan mereka sengaja mengaturnya dengan sedemikian rupa, mulai dari pilihan tempat yang istimewa hingga menu yang akan disediakan.

Kalau menurutku itu, aneh! Karena bagiku, berbuka puasa di rumah dan berkumpul bersama keluarga juga 
sudah buka bersama, namanya. Apalagi dengan perkembangan teknologi dewasa ini, di mana seseorang akan merasa dekat dengan orang lain yang berada jauh darinya namun justru dia akan merasa jauh dengan orang-orang yang berada disekitarnya. Maka dari itu, berbuka puasa bersama keluarga justru akan menjadi moment yang langka. Kebersamaan dengan keluarga itu sangat istimewa, bahkan tidak bisa ternilai harganya.

Teman-temanku? Mereka juga tidak ingin ketinggalan. Hanya saja, mungkin mereka memiliki lebih banyak pertimbangan, terutama soal waktu dan budget. 
"Eh kalian, sudah lihat pengumuman di bawah?" tanya Yunita.
"Pengumuman tentang apa?"
"Itu lho, buka bersama,"
"Ooh, kampus kita ngadain juga acara buka bersama. Orang tiap hari juga udah buka bersama disini," celutuk mas Danang
"Iih, beda lagi ini mah!" Yunita bersikukuh.
"Aah, jangan ikutan acara dari kampus, membosankan. Lebih baik kita bikin acara sendiri, yuk!" ajak Rima.
"Bikin acara buka puasa sendiri, maksudnya?" tanya Hadi.
"Iyaa."
"Hayuklaah,"
"Eh tapi, kalau buka bersama dari kampus berarti semua udah dihandle pihak kampus, donk? Berarti kita tinggal datang dan duduk manis, hehehe..." sambut mas Danang lagi.
"Enak saja, hari gini mana ada yang gratisan. Bayar, tahu!" sanggah Yunita.
"Haa, bayar berapa?"
"35 ribu,"
"Iih mahal amat, apa gak ada yang lebih murah?" 
"Iih, segitu juga udah murah. Aku dan teman-teman SMK juga bayar 65 ribu, minggu lalu," protes Yunita.
"Klo gitu mending bikin acara buka puasa sendiri,"
"Naah, apa kubilang,"
"Terus kita mau ngadain dimana?"
"Mmm, di rumah ci Teteh aja, trus masaknya bareng-bareng."
"Setuju, rumah ci Teteh kan lebih stategis. Dekat ke pasar, dekat pula ke kampus,"
"Aah kalian, emang maunya gitu, hahaha.."
"Baiklah kalau gitu, asal mau maklum saja tempat yang seadanya. Terus bantuin aku buat nyiapinnya juga, lho!"
"Oke... Tenang aja, banyak bala bantuan yang bisa diberdayakan."
"Iya, yang penting kita bisa silaturahim, bisa kenyang dan bahagia dengan budget yang minim." :D

"Lalu, menunya apa aja?" tanya Huda
"Kita bikin nasi liwet aja!" usul Yunita.
"Bebas, yang penting ada sayur, lalap dan sambal," pinta mas Danang.
"Jangan nasi, ah! Nasi mah di rumah juga banyak," sanggah Heru.
"Iya, jangan nasi. Kita bikin ramen aja, pan bisa ditambahkan sayuran plus yang lainnya." usul Rima.
"Setuju, masak apa aja selain nasi." sambut Heru.
"Oke, deal. Kita masak ramen, nanti Rima yang beli ramennya. Bada ashar, Rima langsung ke rumah teteh tapi lupa lagi gangnya."
"Buat rute nanti dipandu, trus ramennya mau ditambah apa aja? Jagung manis, kol dan wortel siap."
"Mending kolnya diganti sama brokoli. Trus tambahin siomay juga, donk." usul Hakim.
"Sip, klo gitu."
"Terus apa lagi, masa cuma ramen doang, nggak rame atuh!"
"Soft buah,"
"Ish, sop buah mahal!"
"Desertnya pisang sama ice cream, minumnya lemon tea, cemilannya keripik pedes, seblak, baso, juice, ayam penyet, mie ayam" cerocos Indah.
"Waduh budget," sela Heru.
"Steak, burger, pizza, puding, spageti..,"
"Haduh-haduh, ci Indah stress segala disebutin, wkwkwk..."
"Hayuk mas Danang, besok ditunggu jam 4 sore," ajak Fajar.
"Atuhlaah jangan jam 4, saya baru bubar dari kantor. Janjian jam 5 aja, di depan kampus." sanggah mas Danang.
"Fajar jam 4 udah ada di rumah ci Teteh, macet Cicadas tidak bisa dihindari, hahaha..."
"Langsung janjian dicicadas aja, di central snack 2500an. Klo yang gak tau mah."
"Awas disangkain tukang ojeg klo janjian di sana, Heru!"
"Fajar mah mau lewat jalan Asep Berlian aja,"
"Klo nggak, mas Danang ditungguin di depan STIE Equitas,"
"Trus, yang mau janjian sama Heru di sentral snack, siapa?"
"Mas Danang kayak'a."
"Lho, bukannya mas Danang minta janjian di kampus?"
"Yaa, maksudnya biar lebih deket gitu."

Di tengah kasak kusuk menu yang masih belum akur, satu persatu dari kami membatalkan rencananya. Mulai dari alasan  hingga menemani mamah di rumah. Dengan begitu, otomatis jatah patungan kami menjadi lebih besar. Tapi yaa sudahlah, mau gimana lagi, coba! Daripada harus dibatalkan lagi, kan sayang juga. Tidak apa-apa, yang penting kita sudah berniat baik mengajak mereka
Hingga akhirnya, kami sepakat  akan membuat mie ramen dengan toping sayuran saja. Dengan pertimbangan, nasi pasti selalu ada setiap hari, di rumah. Jadi, kami pilih mie ramen biar tidak bosan. Sedangkan menu tambahan yang lainnya, menyusul saja atau disesuaikan dengan kondisi nanti.

Esok harinya...
Pagi-pagi sekali aku sudah pergi ke pasar. Aku memang lebih suka pasar pagi, alasannya lebih banyak pilihan dan harganya juga lebih miring. Selain itu, udaranya lebih segar dan tidak panas. Aku sengaja membeli beberapa bahan makanan, untuk menambah menu nanti sore.
Akan tetapi, sebuah kabar tidak terduga muncul selepas dhuhur.
"Teman-teman, kayak'a Rima gak jadi ikut, Rimanya hareeng,"
"Euh, ko bisa hareeng sekarang, Rim? Aku kan, gak bisa masak ramen terus belum sempet beli ramennya juga, ih!" ucapku panik.
"Masak ramen mah gimana nanti. Kan ada mbah google ato YouTube," hibur Fajar.
"Sama aja kali, klo gak bisa mah,"
"Apa ganti menu aja?" usul Heru.
"Ganti sama apa, bikin nasi liwet? Gak ada persiapan buat menu lain," keluhku lagi.
"Makanan buat buka mah gampang, asal ada yang dingin, manis dan gorengan." ujar mas Danang.
"Roti tawar aja," usul Huda.
"Roti tawar mah ada, tapi mau diapain?"
"Dicelupin ke energen aja, biar kayak sarapan pagi, hahaha..."
"Klo seblak gimana?" tanya Heru.
"Klo seblak gak ada kencurnya, Heru!"
"Yaa beli!"
"Bingung ahh, gimana chef we saya mah,"
"Iih jam segini, mana ada yang jualan kencur. Emang pagi-pagi, bisa beli ke pasar?"
"Yang gurih-gurih aja, biar mencegah diabetes,"
"Apa atuh,"
"Ya udah, gini aja. Bumbu apa yg ada di rumah, nanti kita sesuaikan."
Nah masalahnya, bahan makanan dan bumbu yang ada nggak nyambung
Trus gimana, dong
Gimana nanti aja deh, bismillah aja.

Sejujurnya, aku bingung mau masak apa. Setelah Indah dan Yunita batal datang, kini giliran Rima yang tak jadi pergi. Padahal rencananya, aku sangat mengandalkan Rima untuk mengolah ramen. Sedangkan aku bakal mengolah menu lainnya. Bagi-bagi tugas, maksudnya.
Tapi sekarang, semua menu berada ditanganku. Belum lagi, kondisi rumahku yang masih berantakan dan perlu penanganan ektra. Padahal waktu terus bergerak, hanya menyisakan beberapa jam menjelang buka puasa. Haduuh, bagaimana ini?

Setelah bengong di depan kulkas untuk beberapa lama, akhirnya aku mulai turun ke dapur untuk mengurai ide yang terlintas di kepala dengan bahan makanan yang seadanya dan waktu yang semakin mepet. Aah, semoga semua bisa rampung tepat waktu.

"Merapat geng,"
"Heru, mau janjian di mana?" tanya Huda
"Saya langsung otw ke rumah ci teteh, klo gak nyasar," kata Heru. 
"Jangan gegabah Heru, bisi diculik. Rumah ci Teteh kan, bagai labirin,"
"Kan ada google maps, udah canggih sekarang mah." ujar Heru lagi.
"Heru mah mau ngikutin bus DAMRI dari leuwi panjang, paling juga nyasar ke terminal Cicaheum, hahaha."
"Hei kalian, udah nyampe mana? Bantuin aku, dong!"
"Aduh maaf telat, kunci motor ilang." balas Heru.
"Fajar baru nganterin mamah dari pasar,"
"Heu, kalian mah.."

Daripada menunggu yang tak pasti, aku mulai mengolah roti goreng. Sebenarnya roti goreng lebih enak dihidangkan hangat-hangat. Tapi karena tidak ada orang lain yang membantu, terpaksa mulai aku goreng dari sekarang. 
Itu pun harus bolak balik antara dapur dan rumah bagian depan. Aku harus merapikan dan mengepel lantainya, sebelum mereka datang. Jadi, jangan salahkan kalau roti gorengnya sedikit gosong, gara-gara kalian juga, sih! 


"Dari baso wara wiri, kemana lagi?" tanya mas Danang.
"Tepat disebelahnya," balasku.
"Saya udah nyampe di depan rumah, nih!"
"Mana-mana, ko gak ada orang di sini?"
"Lho, rumah'a yang ini bukan?"
"Bukaan, itu rumah orang."
"Lha, maksudnya?"
"Ahaha, maaf aku lupa memberi tahu kalian. Kalau baso wara wiri didekat rumahku ada dua. Yang satu dikelola istrinya, sedang yang lain dikelola suaminya. Tapi, gak jauh ko." aku mencoba menjelaskan.

"Nah rumahku, ada disebelah baso wara wiri yang dikelola istrinya, sedangkan posisimu berada disebelah baso wara wiri yang dikelola suaminya."
"Ooh, begitu. Ngobrol atuh, biar saya tidak terbengong-bengong seperti ini."
"Dari sana tinggal lurus, lalu belok di pertigaan gang."
"Oke, tp saya belum sempet beli aqua gelas." kata mas Danang.
"Gak papa, aqua gelas bisa nyusul nanti."
"Sip, welcome to my house.. Gang seribu punten,"

Belakangan, yang lain mulai datang susul menyusul. Ada Fajar, Heru dan Huda. Sedangkan Hakim datang, tepat beberapa menit menjelang adzan magrib. Aah, kalian... kenapa baru datang, saat semua sudah beres? Akhirnya, kami berbuka puasa bersama dengan menu yang seadanya.




 "Ngomong-ngomong ramennya, mana?" tanya Hakim.
"Kan belum beli,"
"Yaa beli, atuh!"
"Kamu aja yang beli, kita nggak tahu mie ramen seperti apa, ntar salah lagi!"
"Oke...,"

Tiga puluh menit kemudian..
Menu utama siap dihidangkan, apa lagi kalau bukan ramen. Saking maunya makan ramen, Hakim bela-belain membeli dan memasaknya sendiri. Aku sih, sudah terlalu lelah untuk membantunya di dapur. 
Sementara yang lain lebih tertarik untuk mengobrol di luar sambil menikmati malam Ramadhan yang syahdu.
Karena kerja kerasnya malam ini, kami sengaja memberi Hakim semangkuk ramen dengan porsi lebih. Dari racikan tangannya, kami dapat mencicipi mie ramen, yang terkenal dari negeri Ginseng ini meski tidak seperti menu aslinya.

Selanjutnya, kami berenam asyik berbincang mengenai berbagai hal. Mulai dari hal ringan hingga hal yang lebih serius, seperti curhat. Malam semakin larut dan waktupun berlalu tanpa terasa. Hingga akhirnya, mereka berlima pamit pulang.

Selepas mereka pergi, aku baru tersadar kalau kondisi rumahku kembali berantakan. Lalu siapa yang akan membantuku membereskan rumah kali ini? Sedangkan aku perlu energi ekstra untuk menyiapkan menu sahur dini hari nanti. Aah kalian, argh




Grey house, 28 Juni 2016



Kamis, 29 Oktober 2015

Road to Lembang part 1 (Floating Market Lembang)


Sebenarnya sudah sejak lama, aku berencana mengunjungi Floating Market Lembang bersama keluarga. Sayangnya, rencana itu masih belum kesampaian juga hingga sekarang. Kata orang sih, tempat wisata yang satu ini cukup unik. Hmm, seunik apa ya? Aku jadi semakin penasaran.
Daripada penasaran, aku mulai berburu informasi mengenai Floating Market Lembang. Tidak disangka, ternyata banyak juga website yang mengulas tentang tempat wisata yang satu ini. Mulai dari ulasan yang sederhana hingga ulasan yang paling lengkap. Meski demikian, aku tetap merasa masih ada yang kurang, kalau belum datang sendiri.
Aah, siapa yang menyangka kalau aku berhasil mengunjungi tempat wisata ini, tanpa sengaja. Sungguh di luar dugaan. Semua ini berawal dari kunjunganku ke rumah Dinny teman sekelasku, sabtu lalu. Kebetulan, dia orang Lembang dan kalau tak salah, rumahnya juga dekat dengan Floating Market Lembang
Ah kesempatan, nih! Kalau kata peribahasanya "Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui". Sekali silaturahmi, sekalian refreshing dan menghabiskan kepenasaran, hahaha....
“Inginnya sih, jalan-jalan dulu sebelum pulang ke Bandung!" ujarku malam itu
"Iya, hayuk. Memangnya mau jalan-jalan ke mana?” tanya Dinny. 
“Hmm, kemana ya? Yang deket-deket aja, soalnya aku nggak ada persiapan buat piknik dan jalan-jalan," pintaku lagi. 
"Oke siap. Tapi di sekitar sini kan, tempat wisata semua, hehe...”
“Ah iya juga,” balasku yang merasa konyol sendiri.
Ngg, kalau ke Floating Market Lembang?” usulku lagi
“Boleh, aku juga belum pernah ke sana, ko” balas Dinny.
“Haa, orang Lembangnya belum pernah ke sana juga?” tanyaku heran.
Sementara Dinny hanya melempar senyum, sembari beranjak meninggalkanku. Lalu, menghidangkan tiga gelas bandrek dihadapan kami.
“Lho ko, gelasnya ada tiga, Din?” tanyaku heran.
“Kan, Huda mau kesini!” balasnya.
“Oo gitu. Syukurlah, sudah lama juga tidak bertemu dengan Huda,"          Begitu Huda datang, kami langsung asyik mengobrol. Maklum saja, sudah hampir dua bulan lebih kami tidak pernah bertemu. Ditemani segelas bandrek, obrolan kami bertiga terasa semakin seru dan hangat.
“Trus, jadinya kita mau kemana?” tanya Huda memastikan.
“Naah justru itu, aku jadi bingung sendiri. Habisnya, terlalu banyak tempat wisata yang ingin sekali aku kunjungi. Padahal kan, waktu yang kumiliki terbatas dan entah kapan bisa berkunjung ke Lembang lagi,  keluhku sembari menyeruput bandrek. 
“Kalau begitu, mending yang dekat dari rumah saja. Selain lebih menghemat waktu dan tenaga, juga menghemat saku. Maklum, akhir bulan, hehe...” saran Huda.
"Hmm, gimana kalau Floating Market Lembang?" tawarku sembari melirik kedua sahabatku. Kami bertiga langsung melempar senyum, lalu menyatukan jempol masing-masing. Esok pagi, petualangan dadakan ini akan segera dimulai.
    ******

Usai menghabiskan bubur kacang sebagai sarapan, kami langsung bersiap menuju "Floating Market Lembang". Kami tidak ingin berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Apalagi saat akhir pekan seperti ini, jumlah pengunjungnya bisa bertambah hingga dua kali lipat, bahkan lebih. 



Ternyata benar, Floating Market Lembang sangat dekat dengan rumah Dinny. Saking dekatnya, hanya perlu lima menit saja dengan berjalan kaki. Itupun, lantaran kami harus berjalan memutar menuju pintu gerbangnya. Setelah melalui jalan yang menikung dan menurun, kami mulai memasuki pintu gerbang utama. Dari arah pintu gerbang utama sudah terpampang pengumuman, harga tiket masuk sebesar Rp 15.000/ orang. Sedangkan tarif parkir kendaraan berkisar antara Rp 5000/ motor dan Rp 10.000/ mobil. 
Seorang petugas, langsung menyongsong kami dan menawarkan tiket masuk seharga Rp 15.000 per orang. Awalnya kamu sedikit ragu untuk membeli tiket darinya, khawatir dia hanya seorang calo. Namun kekhawatiran kami itu tidak terbukti. Justru petugas tersebut menunjukkan beberapa loket resmi yang penuh dengan antrian kendaraan bermotor, baik roda empat ataupun roda dua.  
Di saat akhir pekan seperti ini, jumlah pengunjung Floating Market Lembang cukup melonjak. Sehingga pihak penyelenggara sengaja menurunkan beberapa orang petugas untuk melayani pengunjung tanpa kendaraan atau pejalan kaki seperti kami. Ooh begitu rupanya!
Dari pintu gerbang, kami mulai memasuki area parkiran yang sangat luas. Di mana sebagian areanya sudah terisi dengan berbagai jenis bus. Mulai dari bus ekonomi hingga AC Eksekutif. Ada beberapa bus yang baru datang, namun tidak sedikit pula bus yang bersiap meninggalkan tempat ini. 
“Waah, Huda baru tahu kalau tempat parkirannya seluas ini!” cetus Huda.
"Ramainya, seperti terminal aja, hahaha,” timpal Dinny.
“Ya lebih luas tempat inilah. Tempat parkirannya sudah seluas ini, apalagi tempat wisatanya.” tambah Huda lagi. 
Kami bertiga terus melangkah mengikuti para pengunjung lain, tapi sepertinya kami tidak menemukan gerbang utama. Yang ada hanyalah berpapasan dengan pengunjung lain yang tengah memarkirkan kendaraan mereka.
"Ngomong-ngomong, gerbang utamanya di mana?" tanyaku.
"Bukannya kita hanya berkeliling area parkir, sedari tadi?" lanjutku lagi.
"Ah iya, benar juga."
"Kita ikuti orang lain saja. Siapa tahu ada yang baru datang seperti kita," usul Huda.
"Setuju."
Saat melihat seseorang muncul dari sisi kanan, kami pun ikut berbelok ke arah yang sama. Benar saja, kami bertiga sudah berada dalam lokasi  wisata ini. Untunglaah, kami tidak salah mengikuti orang, hahaha... 
Saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan ini, kami langsung takjub dengan keindahan alamnya yang mempesona. 
Bagaimana tidak, pemandangan sebuah danau buatan yang eksotis, dihiasi dengan aneka design taman yang tidak membosankan. Bukan hanya itu, udara sejuk serta semilir angin menambah suasana menjadi semakin romantis. Maka tak heran, apabila para pengunjung ingin mengabadikan moment langka seperti ini.
Meski hari masih pagi, ternyata banyak pengunjung lain, yang sudah datang lebih dulu. Ada yang sibuk berlalu lalang, namun ada pula yang hanya duduk santai menikmati pemandangan. Kalau melihat dari gerak gerik dan tutur katanya sih, kebanyakan memang orang asing. Mereka pasti datang dari luar Bandung, luar Sunda maupun luar negeri. Lalu sekarang, dimana para pedagangnya? Bukannya "Floating Market Lembang" itu terkenal dengan pasar terapungnya? Sebenarnya, papan nama “Floating Market Lembang” sudah terlihat dari kejauhan. 
Nah, ada dua cara untuk mencapainya. Pertama, dengan naik perahu penyebrangan yang telah disediakan penyelenggara. Pengunjung hanya perlu merogoh saku Rp 2000/orang untuk bisa sampai ke seberang danau. Cukup murah, bukan? Sedangkan cara kedua, yakni dengan berjalan kaki menelurusi pinggiran danau. Kami bertiga memang sepakat untuk mencoba cara kedua. Kalo nggak mau cape bukan berpetualang, namanya. 
Bagi yang merasa pegal dan lelah berjalan kaki, jangan khawatir. Tersedia banyak tempat duduk di pinggiran danau. Mulai dari batu, kursi yang berdesain mewah, hingga seonggok kayu yang sengaja didesain seperti pohon yang tumbang.
Sementara di sisi lainnya, terdapat beberapa saung gazebo yang bisa kita sewa. Harga sewanya rata-rata sekitar Rp 100.000/jam. Bahkan ada pula yang mencapai Rp 200.000/jam. Waah, mahal juga yaa! 
Sejujurnya, aku tidak habis pikir kenapa harga sewa bisa semahal itu. Padahal, tempat duduk yang ada di pinggiran danau juga sudah gratis. Jadi buat apa masih mencari tempat yang berbayar? Pantas saja, bila saung-saung gazebo ini terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang pengunjung saja yang terlihat duduk sebentar, lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Jalanannya cukup memutar dan melelahkan, memang. Namun pemandangan dan fasilitas lain yang ditawarkan, sangat berbanding lurus dengan rasa lelah yang kami rasakan.
Selain pemandangan yang memanjakan mata, Floating Market Lembang juga menghadirkan beberapa outlite, seperti: kaos, kerajinan tangan, merchandise, oleh-oleh khas bandung, dsb.

Sementara kalau bicara fasilitas penunjang, aku acungkan dua jempol untuk "Floating Market Lembang". Ketika waktu sholat tiba, beberapa mushola yang bersih dan rapi telah tersebar di setiap sisinya, sangat menunjang bagi kekhusuan ibadah.
Satu hal lagi, tempat sampah juga tidak pernah absen di setiap sudutnya. Mulai tempat sampah organik, hingga tempat sampah non organik. Bukan hanya itu, para petugas kebersihan yang ditempatkan di setiap sudut pun siap menetralisir kebersihan wilayahnya.
Nah, bagi pengunjung yang kebetulan membawa buah hatinya, wahana rumah kelinci menjadi salah satu pilihan. Kelinci, hewan berbulu yang lucu dan menggemaskan. Siapa yang tidak menyukainya, terutama anak-anak. 
Selain itu, ada pula wahana angsa dan ikan mas yang tidak pernah luput dari perhatian anak-anak. Bagaimana tidak? disini, pengunjung diperbolehkan untuk berinteraksi langsung dengan kedua binatang tersebut. Caranya, gampang. Pengunjung hanya membeli pakan, seharga 5000/ bungkus.  Setelah itu, mereka bisa memberi pakan secara langsung pada angsa ataupun ikan mas. 
Hari sudah semakin siang, pantas saja perut kami mulai terasa keroncongan. Lagipula kami sudah kehabisan gaya untuk berfoto-foto lagi. Mungkin karena perutnya yang sudah mulai lapar. Hingga akhirnya, kami putuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, aku masih penasaran dengan ‘Welcome Drink’ yang sering disebut orang. Sehingga aku mengajak kedua sahabatku ini untuk ikut berbaur dengan pengunjung lain yang baru datang.
Benar saja, ada sebuah bangunan yang dihiasi oleh ukiran kayu jepara. Di tengah-tengahnya, terpampang tulisan ‘pintu masuk’. Ah, kenapa kita tidak pernah melihatnya tadi?
Kami bertiga pun berpura-pura seperti yang baru datang. Kami juga ikut masuk ke dalam pintu tadi, bersama pengunjung lain yang baru datang. Ternyata benar, di sana sudah banyak pengunjung yang mengantri untuk menukarkan tiket masuk dengan ‘Welcome Drink’. Ada tujuh macam pilihan minuman. Ada chocolate, milo, jus jeruk, jus melon, dsb. 
Nah, kalau sudah menghabiskan kepenasaran seperti ini. Kali ini, kami benar-benar mau pulang, ahaha.... Sampai berjumpa lagi dalam Road to Lembang part 2.. Kemana, nantikan saja ulasan berikutnya ^ ^ 


 

******




Floating Market Lembang, 22 Agustus 2015

Dompet Baru

"Cieee, ada yang punya dompet baru, nih!" cetuluk Dinny yang baru tiba di kostan. "Iya, hehe... Dompet dibeliin Emih pas mu...