Rabu, 20 Juli 2016

Demi Semangkuk Ramen

Terkadang, aku tidak habis pikir dengan kebiasaan masyarakat kita. Pemikiranku yang kuno, ataukah penafsiran yang salah sudah menjadi hal lumrah? Kita ambil contoh dalam bulan ramadhan seperti saat ini. Buka bersama menjadi salah satu agenda wajib yang diprioritaskan orang. Sesibuk apapun seseorang, dia selalu berusaha meluangkan waktunya untuk bisa ikut acara buka bersama

Bagi sebagian orang, buka bersama itu diidentikkan dengan berbuka puasa di luar bersama teman-teman, sahabat, ataupun rekan kerja. Bahkan mereka sengaja mengaturnya dengan sedemikian rupa, mulai dari pilihan tempat yang istimewa hingga menu yang akan disediakan.

Kalau menurutku itu, aneh! Karena bagiku, berbuka puasa di rumah dan berkumpul bersama keluarga juga 
sudah buka bersama, namanya. Apalagi dengan perkembangan teknologi dewasa ini, di mana seseorang akan merasa dekat dengan orang lain yang berada jauh darinya namun justru dia akan merasa jauh dengan orang-orang yang berada disekitarnya. Maka dari itu, berbuka puasa bersama keluarga justru akan menjadi moment yang langka. Kebersamaan dengan keluarga itu sangat istimewa, bahkan tidak bisa ternilai harganya.

Teman-temanku? Mereka juga tidak ingin ketinggalan. Hanya saja, mungkin mereka memiliki lebih banyak pertimbangan, terutama soal waktu dan budget. 
"Eh kalian, sudah lihat pengumuman di bawah?" tanya Yunita.
"Pengumuman tentang apa?"
"Itu lho, buka bersama,"
"Ooh, kampus kita ngadain juga acara buka bersama. Orang tiap hari juga udah buka bersama disini," celutuk mas Danang
"Iih, beda lagi ini mah!" Yunita bersikukuh.
"Aah, jangan ikutan acara dari kampus, membosankan. Lebih baik kita bikin acara sendiri, yuk!" ajak Rima.
"Bikin acara buka puasa sendiri, maksudnya?" tanya Hadi.
"Iyaa."
"Hayuklaah,"
"Eh tapi, kalau buka bersama dari kampus berarti semua udah dihandle pihak kampus, donk? Berarti kita tinggal datang dan duduk manis, hehehe..." sambut mas Danang lagi.
"Enak saja, hari gini mana ada yang gratisan. Bayar, tahu!" sanggah Yunita.
"Haa, bayar berapa?"
"35 ribu,"
"Iih mahal amat, apa gak ada yang lebih murah?" 
"Iih, segitu juga udah murah. Aku dan teman-teman SMK juga bayar 65 ribu, minggu lalu," protes Yunita.
"Klo gitu mending bikin acara buka puasa sendiri,"
"Naah, apa kubilang,"
"Terus kita mau ngadain dimana?"
"Mmm, di rumah ci Teteh aja, trus masaknya bareng-bareng."
"Setuju, rumah ci Teteh kan lebih stategis. Dekat ke pasar, dekat pula ke kampus,"
"Aah kalian, emang maunya gitu, hahaha.."
"Baiklah kalau gitu, asal mau maklum saja tempat yang seadanya. Terus bantuin aku buat nyiapinnya juga, lho!"
"Oke... Tenang aja, banyak bala bantuan yang bisa diberdayakan."
"Iya, yang penting kita bisa silaturahim, bisa kenyang dan bahagia dengan budget yang minim." :D

"Lalu, menunya apa aja?" tanya Huda
"Kita bikin nasi liwet aja!" usul Yunita.
"Bebas, yang penting ada sayur, lalap dan sambal," pinta mas Danang.
"Jangan nasi, ah! Nasi mah di rumah juga banyak," sanggah Heru.
"Iya, jangan nasi. Kita bikin ramen aja, pan bisa ditambahkan sayuran plus yang lainnya." usul Rima.
"Setuju, masak apa aja selain nasi." sambut Heru.
"Oke, deal. Kita masak ramen, nanti Rima yang beli ramennya. Bada ashar, Rima langsung ke rumah teteh tapi lupa lagi gangnya."
"Buat rute nanti dipandu, trus ramennya mau ditambah apa aja? Jagung manis, kol dan wortel siap."
"Mending kolnya diganti sama brokoli. Trus tambahin siomay juga, donk." usul Hakim.
"Sip, klo gitu."
"Terus apa lagi, masa cuma ramen doang, nggak rame atuh!"
"Soft buah,"
"Ish, sop buah mahal!"
"Desertnya pisang sama ice cream, minumnya lemon tea, cemilannya keripik pedes, seblak, baso, juice, ayam penyet, mie ayam" cerocos Indah.
"Waduh budget," sela Heru.
"Steak, burger, pizza, puding, spageti..,"
"Haduh-haduh, ci Indah stress segala disebutin, wkwkwk..."
"Hayuk mas Danang, besok ditunggu jam 4 sore," ajak Fajar.
"Atuhlaah jangan jam 4, saya baru bubar dari kantor. Janjian jam 5 aja, di depan kampus." sanggah mas Danang.
"Fajar jam 4 udah ada di rumah ci Teteh, macet Cicadas tidak bisa dihindari, hahaha..."
"Langsung janjian dicicadas aja, di central snack 2500an. Klo yang gak tau mah."
"Awas disangkain tukang ojeg klo janjian di sana, Heru!"
"Fajar mah mau lewat jalan Asep Berlian aja,"
"Klo nggak, mas Danang ditungguin di depan STIE Equitas,"
"Trus, yang mau janjian sama Heru di sentral snack, siapa?"
"Mas Danang kayak'a."
"Lho, bukannya mas Danang minta janjian di kampus?"
"Yaa, maksudnya biar lebih deket gitu."

Di tengah kasak kusuk menu yang masih belum akur, satu persatu dari kami membatalkan rencananya. Mulai dari alasan  hingga menemani mamah di rumah. Dengan begitu, otomatis jatah patungan kami menjadi lebih besar. Tapi yaa sudahlah, mau gimana lagi, coba! Daripada harus dibatalkan lagi, kan sayang juga. Tidak apa-apa, yang penting kita sudah berniat baik mengajak mereka
Hingga akhirnya, kami sepakat  akan membuat mie ramen dengan toping sayuran saja. Dengan pertimbangan, nasi pasti selalu ada setiap hari, di rumah. Jadi, kami pilih mie ramen biar tidak bosan. Sedangkan menu tambahan yang lainnya, menyusul saja atau disesuaikan dengan kondisi nanti.

Esok harinya...
Pagi-pagi sekali aku sudah pergi ke pasar. Aku memang lebih suka pasar pagi, alasannya lebih banyak pilihan dan harganya juga lebih miring. Selain itu, udaranya lebih segar dan tidak panas. Aku sengaja membeli beberapa bahan makanan, untuk menambah menu nanti sore.
Akan tetapi, sebuah kabar tidak terduga muncul selepas dhuhur.
"Teman-teman, kayak'a Rima gak jadi ikut, Rimanya hareeng,"
"Euh, ko bisa hareeng sekarang, Rim? Aku kan, gak bisa masak ramen terus belum sempet beli ramennya juga, ih!" ucapku panik.
"Masak ramen mah gimana nanti. Kan ada mbah google ato YouTube," hibur Fajar.
"Sama aja kali, klo gak bisa mah,"
"Apa ganti menu aja?" usul Heru.
"Ganti sama apa, bikin nasi liwet? Gak ada persiapan buat menu lain," keluhku lagi.
"Makanan buat buka mah gampang, asal ada yang dingin, manis dan gorengan." ujar mas Danang.
"Roti tawar aja," usul Huda.
"Roti tawar mah ada, tapi mau diapain?"
"Dicelupin ke energen aja, biar kayak sarapan pagi, hahaha..."
"Klo seblak gimana?" tanya Heru.
"Klo seblak gak ada kencurnya, Heru!"
"Yaa beli!"
"Bingung ahh, gimana chef we saya mah,"
"Iih jam segini, mana ada yang jualan kencur. Emang pagi-pagi, bisa beli ke pasar?"
"Yang gurih-gurih aja, biar mencegah diabetes,"
"Apa atuh,"
"Ya udah, gini aja. Bumbu apa yg ada di rumah, nanti kita sesuaikan."
Nah masalahnya, bahan makanan dan bumbu yang ada nggak nyambung
Trus gimana, dong
Gimana nanti aja deh, bismillah aja.

Sejujurnya, aku bingung mau masak apa. Setelah Indah dan Yunita batal datang, kini giliran Rima yang tak jadi pergi. Padahal rencananya, aku sangat mengandalkan Rima untuk mengolah ramen. Sedangkan aku bakal mengolah menu lainnya. Bagi-bagi tugas, maksudnya.
Tapi sekarang, semua menu berada ditanganku. Belum lagi, kondisi rumahku yang masih berantakan dan perlu penanganan ektra. Padahal waktu terus bergerak, hanya menyisakan beberapa jam menjelang buka puasa. Haduuh, bagaimana ini?

Setelah bengong di depan kulkas untuk beberapa lama, akhirnya aku mulai turun ke dapur untuk mengurai ide yang terlintas di kepala dengan bahan makanan yang seadanya dan waktu yang semakin mepet. Aah, semoga semua bisa rampung tepat waktu.

"Merapat geng,"
"Heru, mau janjian di mana?" tanya Huda
"Saya langsung otw ke rumah ci teteh, klo gak nyasar," kata Heru. 
"Jangan gegabah Heru, bisi diculik. Rumah ci Teteh kan, bagai labirin,"
"Kan ada google maps, udah canggih sekarang mah." ujar Heru lagi.
"Heru mah mau ngikutin bus DAMRI dari leuwi panjang, paling juga nyasar ke terminal Cicaheum, hahaha."
"Hei kalian, udah nyampe mana? Bantuin aku, dong!"
"Aduh maaf telat, kunci motor ilang." balas Heru.
"Fajar baru nganterin mamah dari pasar,"
"Heu, kalian mah.."

Daripada menunggu yang tak pasti, aku mulai mengolah roti goreng. Sebenarnya roti goreng lebih enak dihidangkan hangat-hangat. Tapi karena tidak ada orang lain yang membantu, terpaksa mulai aku goreng dari sekarang. 
Itu pun harus bolak balik antara dapur dan rumah bagian depan. Aku harus merapikan dan mengepel lantainya, sebelum mereka datang. Jadi, jangan salahkan kalau roti gorengnya sedikit gosong, gara-gara kalian juga, sih! 


"Dari baso wara wiri, kemana lagi?" tanya mas Danang.
"Tepat disebelahnya," balasku.
"Saya udah nyampe di depan rumah, nih!"
"Mana-mana, ko gak ada orang di sini?"
"Lho, rumah'a yang ini bukan?"
"Bukaan, itu rumah orang."
"Lha, maksudnya?"
"Ahaha, maaf aku lupa memberi tahu kalian. Kalau baso wara wiri didekat rumahku ada dua. Yang satu dikelola istrinya, sedang yang lain dikelola suaminya. Tapi, gak jauh ko." aku mencoba menjelaskan.

"Nah rumahku, ada disebelah baso wara wiri yang dikelola istrinya, sedangkan posisimu berada disebelah baso wara wiri yang dikelola suaminya."
"Ooh, begitu. Ngobrol atuh, biar saya tidak terbengong-bengong seperti ini."
"Dari sana tinggal lurus, lalu belok di pertigaan gang."
"Oke, tp saya belum sempet beli aqua gelas." kata mas Danang.
"Gak papa, aqua gelas bisa nyusul nanti."
"Sip, welcome to my house.. Gang seribu punten,"

Belakangan, yang lain mulai datang susul menyusul. Ada Fajar, Heru dan Huda. Sedangkan Hakim datang, tepat beberapa menit menjelang adzan magrib. Aah, kalian... kenapa baru datang, saat semua sudah beres? Akhirnya, kami berbuka puasa bersama dengan menu yang seadanya.




 "Ngomong-ngomong ramennya, mana?" tanya Hakim.
"Kan belum beli,"
"Yaa beli, atuh!"
"Kamu aja yang beli, kita nggak tahu mie ramen seperti apa, ntar salah lagi!"
"Oke...,"

Tiga puluh menit kemudian..
Menu utama siap dihidangkan, apa lagi kalau bukan ramen. Saking maunya makan ramen, Hakim bela-belain membeli dan memasaknya sendiri. Aku sih, sudah terlalu lelah untuk membantunya di dapur. 
Sementara yang lain lebih tertarik untuk mengobrol di luar sambil menikmati malam Ramadhan yang syahdu.
Karena kerja kerasnya malam ini, kami sengaja memberi Hakim semangkuk ramen dengan porsi lebih. Dari racikan tangannya, kami dapat mencicipi mie ramen, yang terkenal dari negeri Ginseng ini meski tidak seperti menu aslinya.

Selanjutnya, kami berenam asyik berbincang mengenai berbagai hal. Mulai dari hal ringan hingga hal yang lebih serius, seperti curhat. Malam semakin larut dan waktupun berlalu tanpa terasa. Hingga akhirnya, mereka berlima pamit pulang.

Selepas mereka pergi, aku baru tersadar kalau kondisi rumahku kembali berantakan. Lalu siapa yang akan membantuku membereskan rumah kali ini? Sedangkan aku perlu energi ekstra untuk menyiapkan menu sahur dini hari nanti. Aah kalian, argh




Grey house, 28 Juni 2016



Kamis, 29 Oktober 2015

Road to Lembang part 1 (Floating Market Lembang)


Sebenarnya sudah sejak lama, aku berencana mengunjungi Floating Market Lembang bersama keluarga. Sayangnya, rencana itu masih belum kesampaian juga hingga sekarang. Kata orang sih, tempat wisata yang satu ini cukup unik. Hmm, seunik apa ya? Aku jadi semakin penasaran.
Daripada penasaran, aku mulai berburu informasi mengenai Floating Market Lembang. Tidak disangka, ternyata banyak juga website yang mengulas tentang tempat wisata yang satu ini. Mulai dari ulasan yang sederhana hingga ulasan yang paling lengkap. Meski demikian, aku tetap merasa masih ada yang kurang, kalau belum datang sendiri.
Aah, siapa yang menyangka kalau aku berhasil mengunjungi tempat wisata ini, tanpa sengaja. Sungguh di luar dugaan. Semua ini berawal dari kunjunganku ke rumah Dinny teman sekelasku, sabtu lalu. Kebetulan, dia orang Lembang dan kalau tak salah, rumahnya juga dekat dengan Floating Market Lembang
Ah kesempatan, nih! Kalau kata peribahasanya "Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui". Sekali silaturahmi, sekalian refreshing dan menghabiskan kepenasaran, hahaha....
“Inginnya sih, jalan-jalan dulu sebelum pulang ke Bandung!" ujarku malam itu
"Iya, hayuk. Memangnya mau jalan-jalan ke mana?” tanya Dinny. 
“Hmm, kemana ya? Yang deket-deket aja, soalnya aku nggak ada persiapan buat piknik dan jalan-jalan," pintaku lagi. 
"Oke siap. Tapi di sekitar sini kan, tempat wisata semua, hehe...”
“Ah iya juga,” balasku yang merasa konyol sendiri.
Ngg, kalau ke Floating Market Lembang?” usulku lagi
“Boleh, aku juga belum pernah ke sana, ko” balas Dinny.
“Haa, orang Lembangnya belum pernah ke sana juga?” tanyaku heran.
Sementara Dinny hanya melempar senyum, sembari beranjak meninggalkanku. Lalu, menghidangkan tiga gelas bandrek dihadapan kami.
“Lho ko, gelasnya ada tiga, Din?” tanyaku heran.
“Kan, Huda mau kesini!” balasnya.
“Oo gitu. Syukurlah, sudah lama juga tidak bertemu dengan Huda,"          Begitu Huda datang, kami langsung asyik mengobrol. Maklum saja, sudah hampir dua bulan lebih kami tidak pernah bertemu. Ditemani segelas bandrek, obrolan kami bertiga terasa semakin seru dan hangat.
“Trus, jadinya kita mau kemana?” tanya Huda memastikan.
“Naah justru itu, aku jadi bingung sendiri. Habisnya, terlalu banyak tempat wisata yang ingin sekali aku kunjungi. Padahal kan, waktu yang kumiliki terbatas dan entah kapan bisa berkunjung ke Lembang lagi,  keluhku sembari menyeruput bandrek. 
“Kalau begitu, mending yang dekat dari rumah saja. Selain lebih menghemat waktu dan tenaga, juga menghemat saku. Maklum, akhir bulan, hehe...” saran Huda.
"Hmm, gimana kalau Floating Market Lembang?" tawarku sembari melirik kedua sahabatku. Kami bertiga langsung melempar senyum, lalu menyatukan jempol masing-masing. Esok pagi, petualangan dadakan ini akan segera dimulai.
    ******

Usai menghabiskan bubur kacang sebagai sarapan, kami langsung bersiap menuju "Floating Market Lembang". Kami tidak ingin berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Apalagi saat akhir pekan seperti ini, jumlah pengunjungnya bisa bertambah hingga dua kali lipat, bahkan lebih. 



Ternyata benar, Floating Market Lembang sangat dekat dengan rumah Dinny. Saking dekatnya, hanya perlu lima menit saja dengan berjalan kaki. Itupun, lantaran kami harus berjalan memutar menuju pintu gerbangnya. Setelah melalui jalan yang menikung dan menurun, kami mulai memasuki pintu gerbang utama. Dari arah pintu gerbang utama sudah terpampang pengumuman, harga tiket masuk sebesar Rp 15.000/ orang. Sedangkan tarif parkir kendaraan berkisar antara Rp 5000/ motor dan Rp 10.000/ mobil. 
Seorang petugas, langsung menyongsong kami dan menawarkan tiket masuk seharga Rp 15.000 per orang. Awalnya kamu sedikit ragu untuk membeli tiket darinya, khawatir dia hanya seorang calo. Namun kekhawatiran kami itu tidak terbukti. Justru petugas tersebut menunjukkan beberapa loket resmi yang penuh dengan antrian kendaraan bermotor, baik roda empat ataupun roda dua.  
Di saat akhir pekan seperti ini, jumlah pengunjung Floating Market Lembang cukup melonjak. Sehingga pihak penyelenggara sengaja menurunkan beberapa orang petugas untuk melayani pengunjung tanpa kendaraan atau pejalan kaki seperti kami. Ooh begitu rupanya!
Dari pintu gerbang, kami mulai memasuki area parkiran yang sangat luas. Di mana sebagian areanya sudah terisi dengan berbagai jenis bus. Mulai dari bus ekonomi hingga AC Eksekutif. Ada beberapa bus yang baru datang, namun tidak sedikit pula bus yang bersiap meninggalkan tempat ini. 
“Waah, Huda baru tahu kalau tempat parkirannya seluas ini!” cetus Huda.
"Ramainya, seperti terminal aja, hahaha,” timpal Dinny.
“Ya lebih luas tempat inilah. Tempat parkirannya sudah seluas ini, apalagi tempat wisatanya.” tambah Huda lagi. 
Kami bertiga terus melangkah mengikuti para pengunjung lain, tapi sepertinya kami tidak menemukan gerbang utama. Yang ada hanyalah berpapasan dengan pengunjung lain yang tengah memarkirkan kendaraan mereka.
"Ngomong-ngomong, gerbang utamanya di mana?" tanyaku.
"Bukannya kita hanya berkeliling area parkir, sedari tadi?" lanjutku lagi.
"Ah iya, benar juga."
"Kita ikuti orang lain saja. Siapa tahu ada yang baru datang seperti kita," usul Huda.
"Setuju."
Saat melihat seseorang muncul dari sisi kanan, kami pun ikut berbelok ke arah yang sama. Benar saja, kami bertiga sudah berada dalam lokasi  wisata ini. Untunglaah, kami tidak salah mengikuti orang, hahaha... 
Saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan ini, kami langsung takjub dengan keindahan alamnya yang mempesona. 
Bagaimana tidak, pemandangan sebuah danau buatan yang eksotis, dihiasi dengan aneka design taman yang tidak membosankan. Bukan hanya itu, udara sejuk serta semilir angin menambah suasana menjadi semakin romantis. Maka tak heran, apabila para pengunjung ingin mengabadikan moment langka seperti ini.
Meski hari masih pagi, ternyata banyak pengunjung lain, yang sudah datang lebih dulu. Ada yang sibuk berlalu lalang, namun ada pula yang hanya duduk santai menikmati pemandangan. Kalau melihat dari gerak gerik dan tutur katanya sih, kebanyakan memang orang asing. Mereka pasti datang dari luar Bandung, luar Sunda maupun luar negeri. Lalu sekarang, dimana para pedagangnya? Bukannya "Floating Market Lembang" itu terkenal dengan pasar terapungnya? Sebenarnya, papan nama “Floating Market Lembang” sudah terlihat dari kejauhan. 
Nah, ada dua cara untuk mencapainya. Pertama, dengan naik perahu penyebrangan yang telah disediakan penyelenggara. Pengunjung hanya perlu merogoh saku Rp 2000/orang untuk bisa sampai ke seberang danau. Cukup murah, bukan? Sedangkan cara kedua, yakni dengan berjalan kaki menelurusi pinggiran danau. Kami bertiga memang sepakat untuk mencoba cara kedua. Kalo nggak mau cape bukan berpetualang, namanya. 
Bagi yang merasa pegal dan lelah berjalan kaki, jangan khawatir. Tersedia banyak tempat duduk di pinggiran danau. Mulai dari batu, kursi yang berdesain mewah, hingga seonggok kayu yang sengaja didesain seperti pohon yang tumbang.
Sementara di sisi lainnya, terdapat beberapa saung gazebo yang bisa kita sewa. Harga sewanya rata-rata sekitar Rp 100.000/jam. Bahkan ada pula yang mencapai Rp 200.000/jam. Waah, mahal juga yaa! 
Sejujurnya, aku tidak habis pikir kenapa harga sewa bisa semahal itu. Padahal, tempat duduk yang ada di pinggiran danau juga sudah gratis. Jadi buat apa masih mencari tempat yang berbayar? Pantas saja, bila saung-saung gazebo ini terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang pengunjung saja yang terlihat duduk sebentar, lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Jalanannya cukup memutar dan melelahkan, memang. Namun pemandangan dan fasilitas lain yang ditawarkan, sangat berbanding lurus dengan rasa lelah yang kami rasakan.
Selain pemandangan yang memanjakan mata, Floating Market Lembang juga menghadirkan beberapa outlite, seperti: kaos, kerajinan tangan, merchandise, oleh-oleh khas bandung, dsb.

Sementara kalau bicara fasilitas penunjang, aku acungkan dua jempol untuk "Floating Market Lembang". Ketika waktu sholat tiba, beberapa mushola yang bersih dan rapi telah tersebar di setiap sisinya, sangat menunjang bagi kekhusuan ibadah.
Satu hal lagi, tempat sampah juga tidak pernah absen di setiap sudutnya. Mulai tempat sampah organik, hingga tempat sampah non organik. Bukan hanya itu, para petugas kebersihan yang ditempatkan di setiap sudut pun siap menetralisir kebersihan wilayahnya.
Nah, bagi pengunjung yang kebetulan membawa buah hatinya, wahana rumah kelinci menjadi salah satu pilihan. Kelinci, hewan berbulu yang lucu dan menggemaskan. Siapa yang tidak menyukainya, terutama anak-anak. 
Selain itu, ada pula wahana angsa dan ikan mas yang tidak pernah luput dari perhatian anak-anak. Bagaimana tidak? disini, pengunjung diperbolehkan untuk berinteraksi langsung dengan kedua binatang tersebut. Caranya, gampang. Pengunjung hanya membeli pakan, seharga 5000/ bungkus.  Setelah itu, mereka bisa memberi pakan secara langsung pada angsa ataupun ikan mas. 
Hari sudah semakin siang, pantas saja perut kami mulai terasa keroncongan. Lagipula kami sudah kehabisan gaya untuk berfoto-foto lagi. Mungkin karena perutnya yang sudah mulai lapar. Hingga akhirnya, kami putuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, aku masih penasaran dengan ‘Welcome Drink’ yang sering disebut orang. Sehingga aku mengajak kedua sahabatku ini untuk ikut berbaur dengan pengunjung lain yang baru datang.
Benar saja, ada sebuah bangunan yang dihiasi oleh ukiran kayu jepara. Di tengah-tengahnya, terpampang tulisan ‘pintu masuk’. Ah, kenapa kita tidak pernah melihatnya tadi?
Kami bertiga pun berpura-pura seperti yang baru datang. Kami juga ikut masuk ke dalam pintu tadi, bersama pengunjung lain yang baru datang. Ternyata benar, di sana sudah banyak pengunjung yang mengantri untuk menukarkan tiket masuk dengan ‘Welcome Drink’. Ada tujuh macam pilihan minuman. Ada chocolate, milo, jus jeruk, jus melon, dsb. 
Nah, kalau sudah menghabiskan kepenasaran seperti ini. Kali ini, kami benar-benar mau pulang, ahaha.... Sampai berjumpa lagi dalam Road to Lembang part 2.. Kemana, nantikan saja ulasan berikutnya ^ ^ 


 

******




Floating Market Lembang, 22 Agustus 2015

Seindah Purnama

Sudah hampir satu minggu, kami mulai menempati kampus baru. Meski tempatnya tidak seluas kampus lama tapi setidaknya bangunan ini masih tergolong baru dan lebih dekat dari rumah. Hingga aku tidak memerlukan waktu yang  lama untuk tiba di sana.

Anganku kembali melayang pada masa-masa SMA, di mana sekolahku juga cukup dekat dari rumah. Hanya butuh waktu lima sampai sepuluh menit untuk tiba di sekolah.Tapi anehnya, kami tidak pernah datang lebih awal. Justru baru datang, beberapa menit menjelang bel sekolah berbunyi. Lain halnya dengan teman-teman yang rumahnya jauh, mereka sudah hadir di sekolah sekitar satu jam menjelang bel sekolah. Rupanya, kebiasaan buruk itu masih tetap melekat hingga sekarang.  

Nah, semua cerita ini berawal dari salah seorang teman yang berjanji akan mampir ke rumah sebelum ke kampus. Indah, namanya. Padahal biasanya aku berangkat ke kampus bersama Dinny. Namun karena tahu Indah akan menjemputku, Dinny tak jadi datang menjemputku. Sementara aku masih santai di rumah menunggu Indah.

Waktu terus berlalu, namun Indah tak kunjung datang. Sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul lima tepat. Padahal jadwal kuliah hari ini dimulai tepat pukul lima. 
Haduuh, bagaimana ini? Jujur saja, aku mulai panik saat itu. Kalau tahu akan begini jadinya, lebih baik aku berangkat ke kampus sendiri. Mungkin sudah tiba di kampus sedari tadi :(

Meski demikian, aku pun mencoba menghubungi Indah.
     "Indah, di mana?"
     "Aduuh, ini masih jauh, teh! Gimana dong?"
     "Langsung ke kampus aja!" balasku singkat.

Beberapa waktu berlalu, Indah mengirimiku beberapa pesan singkat namun tidak ada satupun yang aku balas. Mungkin dia menganggap, aku marah padanya. Padahal sungguh, bukan itu maksudku. Aku sengaja tak membalasnya karena sedang terburu-buru. Lagipula jika aku tidak memperhatikan jalan, bisa-bisa aku kelewatan pas turun dari angkotnya.

Tak bisa kupungkiri ada sedikit rasa kecewa tersimpan di hati. Namun aku tak ingin memikirkannya. Aku juga tidak ingin menyalahkan Indah atas kejadian ini. Justru hal seperti ini menjadi peringatan bagiku agar segera membuang kebiasaan buruk seperti itu. Seharusnya, aku tidak boleh terlalu mengandalkan orang lain. 
"Selama masih sanggup melakukannya sendiri, kenapa harus menunggu orang lain?"

Singkat cerita, kuliah sudah selesai tanpa terasa. Aku memutuskan untuk langsung pulang dan shalat magrib di rumah saja. Aku memilih jalan kaki, karena ingin mencari lauk makan malam, sekalian. Namun, saat baru melangkah beberapa meter dari halaman kampus, aku melihat dua buah motor yang sedang berhenti di pinggir jalan. 

"Eh, tunggu dulu! Bukankah itu Ebin dan Zia?" 
"Yup, mereka berdua adalah teman baikku, sejak ospek dulu."
"Ah ternyata, benar. Itu memang mereka berdua!"
Ebin dan Zia adalah dua orang sahabat yang tak terpisahkan, Kemana-mana selalu berdua, seperti Ipin dan Upin. Jika disatu tempat ada Ebin, pasti Zia juga tidak pernah ketinggalan.

Meski masih kuliah di kampus yang sama, namun kami memang jarang bertemu. Selain waktu aktifitas yang tidak pernah sinkron, kami juga berbeda jurusan. Lantaran aku mengambil jurusan Teknik Informatika sementara mereka berdua mengambil jurusan Teknik Arsitektur,  

Meski demikian, aku tak pernah merasa canggung dan selalu merasa nyaman bersama mereka.  Justru aku lebih merasa canggung bila meminta bantuan dari teman sekelas, entah kenapa.
         Aah kebetulan nih, bisa nebeng pulang, batinku

Belum juga aku sempat membuka mulut, ternyata mereka sudah menyapa duluan.
     "Eeh, mau kemana?"
     "Yaa pulanglaah!"
     "Hayuk bareng, sekalian kita pulang!"
     "Memangnya, kalian tidak ada jadwal kuliah?"
     "Ada... lah, makanya kita datang ke kampus,"
     "Terus... Kenapa pulang, bukannya masuk kelas?"
     "Males aja, nggak kebagian tempat parkir."
     "Iya bener. Mending kita bolos aja, sekali-kali, hahaha..."
     "Ah kalian ini, ada-ada saja," 

Allah memang adil, meski tadi sore aku tidak jadi dijemput oleh kedua temanku. Tapi di luar dugaan, Allah langsung menggantinya dengan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Yakni bisa bertemu dengan mereka berdua, tanpa sengaja. 

Bukan hanya itu, mereka juga rela mengantarkan aku pulang. Hingga akhirnya, aku bisa tiba di rumah dengan selamat tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Rasanya, aku menjadi seorang putri yang sedang dikawal oleh dua orang hulubalang, hehehe

Purnama memang sedang bersinar indah, malam ini. Seindah cerita indah persahabatan kami...




                                                                                                           Rumah Abu, 28 Oktober'15

Dompet Baru

"Cieee, ada yang punya dompet baru, nih!" cetuluk Dinny yang baru tiba di kostan. "Iya, hehe... Dompet dibeliin Emih pas mu...