Kamis, 06 September 2012

Novel Anak

  Novel anak terbagi dua:
  1) Novel untuk kelas rendah, yakni anak kelas 1-3 SD
      Sering disebut juga first novel  (FN) karena bukunya tipis sekali, hanya 60-80 hlm
      Bentuk Novel seperti itu,  merupakan peralihan dari picture book ke novel
  2) Novel untuk kelas atas, yakni anak kelas 3-6 SD 
     ~ Biasanya,  naskah novel yang dibutuhkan penerbit itu kurang lebih 100-200 hlm A4; 1,5 spasi atau sekitar 160-240 hlm buku. 
      ~ Bahasa, sudah bisa explore  
   ~ Tema yang diangkat, biasanya tentang pembentukan karakter, sosial, persahabatan, pengetahuan umum, keluarga, dan lingkungan.  
     ~ Tema-tema sosial juga sangat dianjurkan karena pembacanya pasti banyak. Namun hingga  kini, tema yang paling disukai pasar masih tetap humor dan misteri 
     ~ Kita bisa juga menulis novel sedih, karena bagaimana pun anak-anak juga harus tahu, apa   itu sedih. Jadi tema apapun boleh ditulis asal sesuai dengan pembacanya.
      Contoh:
* 5 Sekawan, termasuk novel detektif
* lupus kecil, faris dan haji obet, termasuk novel humor.
* Serial Trio Ucul, karya Tria Ayu dan kelas ajaibnya mas benny
* Tema-tema sosial yang seru tentang persahabatan. Misal Gang penyuka kelinci
  * contoh novel sedih: si Jamin dan si Johan (malah jadi karya sastra), Ratapan Anak Tiri serta Kiambang Bertaut

Bab
Idealnya, bab buat novel 3-8 hlm cukup; A4; 1.5spasi. Bab sebaiknya diolah sedekian rupa sehingga tidak monoton misal bab I seneng, bab II sedih, bab III datar, bab IV seneng, Bab V sedih. Namun, jumlah bab tidak dibatasi, sesuai dengan kebutuhan saja.
Meski yang paling penting adalah isi bab, namun tidak ada salahnya bila kita juga memperhatikan judul Babnya juga. Jadi, jangan asal bikin. Misal:  nama hewan, nama bunga, atau dengan sesuatu yang metaforis.

Judul Bab 
~ bab harus menggambarkan isi bab, lalu dicari metaforisnya.  
~ mangandung kata misterius bikin penasaran mengandung rima, bikin senyum. 
   contoh: Gara-Gara Agar-Agar  
~ mengandung kejahatan: "Pencurian Sendal Jepit"  
~ mengandung futuristik: "Bandung tahun 2030"
Contoh:
judul bab pada novel Matahari Kecil  (membuat metaforis perjalanan matahari)
Bab 1         terbit,
Bab 2         sepenggalah, 
Bab 3         terik
Bab 4         condong,
Bab 5         tenggelam

Bab berirama maksudnya, 
~ bikin pembaca penasaran 
~ bikin pembaca tidak bosan 
~ bikin pembaca pengen terus membacanya
Opening
1) bisa dengan kalimat langsung, contoh; "Hai kamu!" teriak Meti. 
2) bisa dengan kalimat deskriptif: memaparkan si tokoh, setting, masalah yg dihadapi si tokoh
3) bisa dengan sepotong kalimat: puisi, pantung, berita di Koran
4) bisa dengan bunyi-bunyian: suara air, suara seruling, suara kentut
5) bisa dimulai dari konflik atau pengenalan karakter?
6) dengan potongan lagu

Untuk membuat sebuah novel, perlu adanya observasi. Sekalipun itu novel fiksi. Supaya karakternya kena dan ceritanya nggak ngawur. Observasinya, nggak harus seperti peneliti, paling nggak kita nangkep secara keseluruhan.
Nah, karena ini novel, dari awal sebisa mungkin kita sudah bisa mengolah emosi pembaca lewat bab-bab yang akan kita buat. Di mana, cara penulisannya bisa bertahap, bisa konflik dulu atau karakter dulu, sesuai dengan cerita yg akan kita buat, jadi nggak ada patokan.

Tokoh
Tokoh dalam novel, sebaiknya tidak lebih dari 3 orang (tokoh utama). Tokoh utama sebaiknya tokoh anak, karena ini novel anak.
Sementara itu, untuk tokoh pendukung boleh berapa pun, asal tetap berperan. Perubahan karakter dalam novel sangat dimungkinkan.
Cara memunculkan tokoh bisa pelan-pelan, jadi bisa satu persatu

Nasihat Orang Tua  
a. boleh saja, asal bukan dia yang kemudian memutuskan solusi untuk si anak
b. hanya bagian dari dalam rangka mengungkap kasus atau persoalan

Dalam teknis kita akan bahas;
1. bagaimana menggali ide
2. mengawali sebuah novel
3. pembagian bab
4. ending

Bagaimana menggali ide
Ada banyak cara, diantaranya:
1) Dari tingkah laku anak, 
   misal: anak yang aktif sekali, dan hanya diem kalau dikasih suara seruling pasti pembaca akan tanya: 
    * ada apa dengan suara seruling?  
    * apakah ada kisah di balik suara seruling itu?  
    * apakah semua suara seruling membuat dia jadi diam?
    * atau suara seruling tertentu? 
    * bagaimana dengan suara lainnya? 
    Jwb: mungkin itu suara yg sangat berkesan buat si tokoh utama   
2) Dari sistem belajar mengajar 
3) Dari keluhan siswa atau orangtua 
4) Dari Anak Jalanan
5) Dari Binatang Peliharaan 
6) Dari Tanaman 
7) Dari Buku Pelajaran

Kenapa suatu cerita bisa berkesan?
karena ada keterikatan batin antara pembaca dengan si tokoh utama

Cara untuk mempertajam konflik
dengan bertanya pada satu titik yg mengarah pada ide tadi

dari pertanyaan-pertanyaan tadi kita coba urai satu-satu jawabannya hingga menemukan satu titik. Jadilah kira-kira matrik atau drafnya mungkin seperti ini ...
1. Anak perempuan yg hanya bisa diem karena suara seruling
2. Anak perempuan itu suka dengan suara seruling karena suara itu sangat akrab dengannya
3. Suara seruling itu membuat dia teringat dengan adiknya
4. Anak perempuan itu ternyata terpisah dengan adiknya saat ada gempa di daerahnya
5. Anak perempuan itu ternyata sekarang tinggal dengan keluarga angkatnya
(Kelima hal tersebut termasuk clue)

kalau sudah nemu dan tajem konfliknya, baru kita cari ending neh
6. Endingnya: suatu kali anak itu sedang lari pagi bareng kakak angkatnya
di dekat alun-alun mendengar suara seruling anak itu kemudian mendekat
ternyata di alun-alun itu ada pengamen kecil meniup seruling. pengamen itu buta.
(kita buat dramatis)

anak perempuan itu bengong melihat pengamen kecil itu
setelah pengamen selesai memainkan serulingnya, penonton melempar recehan. Anak perempuan itu pun menitikan air mata,
anak perempuan itu mendekat dan tanya namanya;
ternyata anak kecil itu adiknya, yg sekatang buta karena gempa,

5 hal tersebut yang nanti akan diurai dalam bab-bab, itu hanya garis besar >> kira-kira seperti itulah, untuk mempertajam konflik. Dari sini kita urai bab per-bab
Agar cerita yang kita buat tidak mirip dengan cerita orang lain, kita bisa mengolah 
* bagaimana openingnya
* mengatur konfliknya
* menyelesaikan konfilknya
* karakternya dsb

Alur
Hanya ada 2 yakni alur maju dan alur mundur. Dalam novel atau cerita apapun, alur mundur itu hanya untuk memperkuat karakter dan memperkuat konflik
sebaiknya alur mundur itu ditempatkan pada tempatnya: misal untuk memperkuat karakter
contoh alur mundur: (yang memperkuat konflik)
Saat dia mendengar suara seruling itu, dia terdiam beberapa jenak. Dia teringat ombak tsunami yang menggulung rumahnya beberapa tahun lalu. Ombak yang membuat dia sekarang sebatang kara.

Contoh lagi:
Setiap dia membantu Bi Nah mencuci piring, dia melihat senyum ibunya yang sekarang entah di mana. Senyum itu begitu terlihat menenangkan. Senyum yang selalu muncul dalam piring-piring yang dia cuci, seolah mengingatkan dia, untuk selalu membantu siapapun di mana pun kita berada.

anak peniup seruling itu mengingatkan dia pada adiknya. Tanda hitam di dahinya sama persis. Perlahan dia mendekat, lalu memegang tangan bocah lelaki itu.
"Nama kamu Sam?" tanya anak perempuan itu.
Bocah laki-laki itu mengangguk.
"Eh kamu siapa?"
"Samratulagi? Dari Aceh? Dan kamu punya kakak bernama Irma?"
Bicah laki-laki itu kembali mengangguk.
"Kok, kakak tau?" tanya bocah laki-kali itu.
Bocah lelaki itu menepiskan tangannya dan berusaha menjauh, seperti ketakutan
"Iya ... karena ... karena ... aku Irma, kakak kamu"
mereka pun berangkulan
Nah… ini namanya trik bikin ending yang keren, hehehe

Konflik
Konflik itu masalah atau sesuatu yang menjadi pusat dalam sebuah novel
dengan konflik:
* novel jadi lebih berisi
* tokoh jadi lebih berkarakter
dengan tokoh: 
* setting jadi makin kuat
* novel akan mengandung nilai pendidikan bagi pembacanya
Konflik tidak harus ada pada setiap bab, tapi paling nggak ada yang disuguhkan kepada pembaca.  Salah persepsi, salah tanggap, salah komunikasi itu menjadi bagian dari konflik. Sebaiknya dalam novel ada 1 konflik utama dan 1-2 konflik pendukung. Contoh:
1. Konflik utamanya ... Anak itu gak bisa diem kecuali denger suara seruling
2. Konflik pendukung ... si kaka (yg angkat dia) penasaran, apa yg bikin dia seperti itu
Jadi dalam sebuah novel konflik pendukung sangat penting supaya kita tidak kehabisan ide cerita. Konflik pendukung juga akan memperkuat cerita

Pembabakan
dalam ide di atas: bisa saja pembabakannya begini
Bab 1:  Anak-anak heran dengan tingkah laku anak perempuan (tokoh utama) yang gak bisa diam, kecuali kalau mendengar suara seruling
Bab 2:  Si Kaka (anak dari org tua angkat si tokoh utama) menyelidiki keganjilan itu
Bab 3:  Tokoh utama mengungkapkan kalau setiap mendengar suara seruling itu seperti mengingat sesuatu, tapi dia lupa, apa itu.
Bab 4:  tokoh utama dibawa ke dokter, ternyata memang ada amnes dikit di kepala bekas bencana itu
Bab 5: si tokoh utama diceritakan terus menerus tentang kejadian bencana yang membuatnya dibawa ke sini
bab 6: tokoh utama mulai inget sepotong-sepotong
bab 7: tokoh utama dibawa ke tempat gempa. dia makin inget.
bab 8:  terus bab-bab menjelang ending, sebagai clue ...
di mana si tokoh utama selalu diperdengarkan seruling hingga makin inget
Kalau lihat bab-bab tadi ... akan kerasa kan naik turunnya
* kapan harus sedih, kapan harus senyum
* kapan harus deg2an dst
kira-kira begitulah dalam membuat bab

Point of View
Penulis yang tahu segala itu sama dengan orang ketiga. Jadi nggak ada, sudut pandang penulis segala tahu, yang ada POV org ketiga.
Penulis  bisa menceritakan semua yg dialami si tokoh. Nah, yang agak susah kalau sudut pandang orang pertama (Aku-an), penulis menjadi tokoh aku yg gak bisa ceritain temen-temennya. Jadi, yang ada POV orang pertama dan orang ketiga

Kalau kita sudah berhasil menyelesaikan sampai bab perbab, percayalah, novel kita itu sudah selesai 50%... bayangkan, 50%

Senin, 03 September 2012

My name is Molly

Namanya "Molly"
Umurnya sekitar lima tahunan, sebelum sakit dan mati

Molly itu kelinci kesayangan keluarga kami, karena nggak susah ngasih makan dia. Bukan cuma sayuran aja yg masuk ke perut dia. Nasi anget tiap pagi sore, rutin. Tahu, goreng tempe, ice cream bahkan ceker ayam sekalipun. Makanan favoritnya bukan kangkung atopun wortel tapi roti coklat :D
Gak heran, klo makin hari badannya makin gempal. Biar bukan Garfield yang terkenal, tp tetep kami sayang dan akan selalu dikenang selama'a

Video sederhana ini diambil ponakan waktu dia masih 9 thnan. Sekarang, dia udah gede ngelebihin tantenya, wkkkk..

Sabtu, 11 Agustus 2012

Senyum Bahagia

Dering itu memecah keheningan pagi. Kinoy yang sibuk mengeringkan rambut diteras paviliun rumah, kalang kabut mencari ponsel miliknya. Dan seperti biasanya, dia lupa dimana ia menaruh ponsel miliknya itu. Nona lupa, begitulah julukan yang diberikan Tegar, sahabatnya. Tegar paling kesal kalau melihatnya, lupa menaruh suatu benda pada suatu tempat. Karena ujung-ujungnya dia sendiri musti ikut pusing nyari.
Jika tidak, dirinya harus bertanggung jawab membawa semua barang itu pulang dengan selamat. Tapi mau gimana lagi, penyakit yang satu ini memang betah banget mukim dikepala Kinoy. Setidaknya, Tegar masih tetap bersyukur karena masih ada orang yang mau berteman baik dengan dirinya.
“Hhh, Tegar? Tumben tu anak pagi-pagi nelpon, gak biasanya,” kilah Kinoy heran.
“Assalamualaikum Warohmatulahi Wabarokatu…,” ucap suara diseberang sana dengan nyaring dan lantang. Memang begitulah kebiasaan Tegar sedari dulu, mengucapkan salam dengan lengkap dimanapun berada.
“Waalaikum salam. Ngapain?” tanya Kinoy lagi ketus.
“Maaf Noy, aku ganggu ya! Lagi sibuk ngapain?”
“Nggak sih, cuma baru beres mandi tinggal bersolek doang, kenapa?
“Wah asyik dong, kalo tau gitu mending cabut aja kesana!”
“Ngapain?”
“Mo liat situ, past belom pake baju, hi…hi…,”
“Husy, enak aja. Coba aja kalo berani! Mo dipecat jadi sahabat?”
“Aduh, jangan atuh. Jangan ngambek ya… becanda. Eh gimana Noy, da kerjaan buatku gak?” sambungnya.
“Uuh, dari dulu nanyanya itu mulu. Emang gak ada pertanyaan lain, napa? Nanyain kabar aku ke atau siapa, gitu!”
“Yaa, gimana dong! Sekarang kan lagi butuh kerjaan…,”
“Lho, bukannya bulan lalu aku kasih info?”
“Duh Kinoy… masa aku disuruh ngelamar kerjaan buat ditempatin di British?? Kan jauh… emang mau aku tinggalin?”
“Ooh gitu, jangan atuh. Ntar aku kesepian, gak ada yang bisa direcokin, diomelin, dimarahin. Tanpa dirimu, aku bagai….,” ucap Kinoy  tak meneruskan ucapannya.
“Halah, kumat deh puitisnya,” potong Tegar.
“Eh emang,  aku salah ngasih info ya?”
“Heeh. Noy…, beneran kan mau jadi sahabat aku?”
“Yup, emang kenapa sih keliahatannya serius banget!”
“Iya nih, soalnya berkaitan ama hidup dan mati.”
“Hah, seserius itukah? Masalah apa sih?”
‘Noy, beneran mau bantu aku kan? Aku percaya 100% kan kita sahabat,”
“Iya, apaan. Jangan berbelit-belit gitu, ah!”
“Kinoy… cariin aku jodoh dong!”
???
“Gubrak…”
“Eh, halo..halo…Noy, kamu gak papa,” suara Tegar terdengar panik
“Nggak, cuma panik doang! Emang beneran serius mo married?” balas Kinoy sambil mengusap-usap keningnya yang barusan kejeduk meja
“Kan udah bilang tadi, udah dulu ya!” putusnya terburu-buru.
“Eh..eh, tunggu! Kamu mau cari calon istri yang kayak gimana? trus tipe idamanmu seperti apa?” cegat Kinoy lagi
“Emm, gak tahu Noy belom kepikiran. Emang, harus ya!” aku Tegar polos
“Ya iyalah, gimana aku nyari kalo gak punya petunjuk sedikitpun,”
“Ooh gitu ya! ntar aja atuh kapan-kapan. Klik, telepon pun terputus.”
Kinoy cuma bisa bengong dan menarik nafas dalam-dalam. Kalo dipikir pikir, siapa yang sebenarnya aneh dirinya atau Tegar? Ataukah mereka berdua yang sama-sama aneh. Mungkin juga, hingga bisa sekompak ini.

   
Sejak menerima telepon tadi, tak ada hal lain yang Kinoy lakukan. Dirinya hanya diam mematung didepan cermin. Permintaan Tegar kali ini bukanlah hal mudah. Pikiran Kinoy, jadi melayang pada kejadian beberapa tahun silam saat dirinya baru pertama kali bertemu dengan Tegar. Seseorang yang datang ke kampus besar, hanya mengenakan kaos oblong putih plus kacamata serta sendal jepit karet.
Benar-benar sederhana. Namun siapa sangka kalau ternyata mereka sama-sama berada dalam kelas dan fakultas yang sama.hingga sampai saat ini mereka bisa jadi sedekat ini. Kini, mereka berdua jadi tim yang solid, kemana-mana selalu berdua, membuat beberapa pasang mata iri.
Awalnya Kinoy merasa risi, akan kedekatan mereka. Tapi orang yang disampingnya itu Tegar. Dan orang yang semacam itu, tak pernah mau peduli apa kata orang. Bahkan Tegar sendiri tak pernah mempermasalahkan itu. Sejauh ini, kedekatan mereka baik-baik saja dan tidak ada orang lain yang dirugikan. Jadi apa salahnya?
“Hhh, calon istri buat dia? Ngg … nggak tahulah, aku bingung!” desah Kinoy
Entah kenapa, permintaan Tegar kali ini membuatnya teringat pada Atma, sosok yang pernah dekat dengannya. Dulu, Atma juga selalu menanyakan hal yang sama, bertanya tentang lowongan pekerjaan dan tak pernah lupa bercerita tentang pengalamannya melamar dari satu tempat ke tempat lain. Dan satu hal yang tak pernah Atma lupakan, yaitu meminta Kinoy untuk mendoakannya.
Namun setelah mapan, Atma malah menikah dengan orang pilihannya. Mungkin selama ini Kinoy berharap terlalu jauh, hingga kejadian tersebut cukup membuatnya terpukul. Memang seperti itulah skenario diatas sana tak pernah bisa diduga.
Dan sekarang, Kinoy jadi sering merasa dihantui oleh peristiwa tersebut. Padahal seharusnya dirinya tak boleh merasa begitu. Toh tak ada kesepakatan mengenai hati, antara dirinya dengan Tegar. Bukankah, selama ini mereka berdua hanya menjalani apa adanya. Jadi siapapun boleh memilih orang lain, siapa saja untuk menjadi belahan jiwanya.  
Sejujurnya, Kinoy tak dapat menepis perasaan tak rela, seandainya Tegar ingin bersama dengan orang lain. Kinoy tahu, bukan inginnya untuk menghalangi niat tulus sahabatnya. Apalagi sampai ingin memiliki, tidak…tidak pernah sedikitpun terlintas dikepalanya. Hanya saja, selama ini dirinya sudah terbiasa melihat Tegar selalu berada disampingnya.
Lagi pula, untuk apa? Toh selama ini, justru Tegar lebih sering memperlakukan dirinya seperti seorang laki-laki. Tegar tak pernah sadar kalau orang yang ada disampingnya itu seorang perempuan dengan balutan jilbab dikepala.
Mungkin Tegar memang merasa nyaman dengan keadaan mereka yang sepert ini. Justru Tegar akan terasa canggung dan tak nyaman bila beranjak lebih jauh lagi. Dan mungkin saja hubungannya dengan Kinoy tidak sebaik sekarang.
Seharusnya Kinoy tak boleh merasa egois. Sebagai seorang sahabat, sudah sepantasnya bagi dirinya untuk memaklumi semua ini. Dia harus memilihkan orang yang tepat untuk sahabatnya. Seseorang yang bisa memahami Tegar apa adanya, seseorang yang bisa merawat dan menjaga Tegar. Serta yang terpenting bisa membuatnya tersenyum bahagia. Sama halnya seperti yang telah Tegar lakukan pada dirinya yaitu selalu membuat dirinya tersenyum bahagia. Moga Allah, segera mempertemukan Tegar dengan bidadari syurganya….


Beranda Azalea, 5 Djulhijah 1429 H
Addicated for somebody who make me smile and happy
                                                                      
                                                    

The Last Miss Call

Sore itu di pelataran rumah singgah kita, tak ada siapa pun disana. Hanya menyisakan kita berdua dan sinar mentari yang hendak kembali ke peraduan.
“Akhirnya aku dapat kerjaan…,” katamu sumrigah
“Syukurlah, dimana?”
Kamu diam sejenak, “Mmm, kapan kau kembali ke kota hujan?” tanyamu lagi mencoba mengalihkan perhatian.
Aku menggeleng, “Proyekan di sana sudah usai. Lagipula, atasanku mutasi ke kota lain.”
“Ooh, begitu ya!” balasmu sedih.
“Memang kenapa? tak biasanya kau tertarik membicarakan hal seperti ini?”
“Aku…aku… mendapat pekerjaan disana,” ucapmu terbata.
“Apa…? Lalu..lalu aku bagaimana? Apa kau tega meninggalkanku seorang diri disini?” protesku lagi.
“Yaa..sudah kuduga,” katamu lirih.
Bila kau sudah dapat memperkirakan hal tersebut, tapi tidak denganku. Aku tak pernah menduga akan kehilanganmu secepat ini. Bukankah selama ini, kita sama-sama saling mengingatkan dan saling menguatkan. Dan bila kau sudah tak ada disini lagi, itu berarti aku harus menghadapi semua ini… sendirian.
Andai kau tahu, tak mudah bagiku untuk mencari penggantimu. Orang bilang, seribu musuh akan mudah kau dapatkan, sedangkan satu sahabat, tentu akan sulit kau pertahankan. Tahukah kau, menaruh sebuah kepercayaan pada seseorang tidaklah mudah.
Aku hanya bisa diam, menunduk. Tanpa perlu kata, tentu kau sudah bisa menebak apa yang kupikirankan. Sejak dulu, aku memang tak pernah bisa menyembunyikan apapun di depanmu.
“Tapi, kapan lagi aku mendapatkan peluang sempurna seperti ini. Jadi pendidik…seperti yang aku idamkan seperti dulu. Kau tau kan?” tandasmu lagi
“Tentu. Tentu aku tahu betul, apa yang menjadi idamanmu sejak dulu. Bagaimanapun aku akan selalu mendukungmu.” ucapku berusaha tersenyum.
Matamu ikut berkaca-kaca, berusaha tersenyum bangga.
“Tenang saja, aku tak pergi jauh. Kalau rindu, kita masih bisa saling menelepon atau berkirim pesan. Lagipula kota hujan hanya berselang beberapa jam dari sini. Bukankah ini lebih baik, daripada aku harus pergi ke ujung timur pulau ini?”
Aku menggangguk lemah.
“Lalu, kapan kau pergi?”
“Entahlah tapi awal bulan depan aku harus sudah berada disana.”
“Cepat sekali..”
“Ya begitulah. Aku masih mencintai tempat ini, aku masih ingin punya waktu untuk bersama-sama kalian selama mungkin. Tapi…,” kau tak meneruskan perkataanmu.
****

Kupaksa mata ini terbuka, saat terdengar suara adzan awal dari kejauhan. Sebenarnya, bukan itu yang menjadi penyebabnya tapi karena ponsel yang berada didekatku berdering tiba-tiba.
“Haa.. kau lagi!! Gak ada kerjaan amat sih!” umpatku kesal.
Untung saja, suasana yang tenang dan dingin membuatku merasa sedikit lebih baik. Andai kau tahu, inilah moment yang paling nyaman dalam hidup kita. Ketika Allah mengabulkan do’a-doa kita semua yang kemudian diaminkan oleh para malaikat.
Sayang, hanya sedikit saja orang yang mau menyadari, termasuk diri ini. Kita lebih memilih melanjutkan mimpi indah, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Kali ini, rasanya sulit bagiku untuk kembali memejamkan mata. Apalagi sampai tertidur lelap. Aku memilih diam dibalik selimut hangat, tanpa aktifitas berarti hingga waktu fajar tiba.
Namun, selepas fajar, waktu terasa berjalan begitu tergesa. Rutinitas pagi, cukup menyita perhatianku hingga tak sempat mengecek ponsel. Tanganku segera meraih ponsel, untuk memastikan kalau tidak ada janji yang aku lewatkan hari ini, atau mungkin ada pesan yang masuk, siapa tahu.
Ah ternyata benar! Kau mengirim sebuah pesan singkat lagi.    
 “…stasiun…05:45..”   
Maksudnya, apa? Butuh beberapa menit bagi otakku untuk mencerna pesan itu dengan mudah. Ya Allah…! Bukankah itu waktu keberangkatanmu menuju kota hujan?
“Ampun, setengah jam lagi!!” pekikku sembari mendongak ke arah jam dinding, refleks.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menyambar sebuah jaket parasit untuk menghalau dinginnya udara pagi. Kemudian, bergegas menuju stasiun.
“Ah, semoga masih ada waktu!” desahku penuh harap.
****

Lengkingan peluit, terdengar begitu nyaring diantara hiruk pikuknya ratusan orang dengan berbagai keperluannya tersendiri.
Kutemukan kau duduk sendirian bersama sebuah travel bag besar. Sedangkan, tas rangsel yang lebih kecil tetap bersarang dibahumu. Senyummu terkembang saat melihat aku datang tergesa.
“Sepagi ini?”
Kau mengangguk.
“Mana yang lain?”
Kau hanya menggeleng, “Sengaja, tak kuberitahu.”
“Apa?”
“Sudahlah. Aku tak ingin merepotkan kalian semua.”
“Tapi aku…”  
“Duduklah, hanya tinggal empat menit lebih tujuh detik lagi.”
Aku menurut saja, duduk disebelahmu. Diam, membisu.
Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan mengambil sebatang coklat. Kucoba ulurkan ke hadapanmu. Trik seperti ini, biasanya selalu berhasil mencairkan keadaan. Tak sepotong coklat pun yang bisa selamat, bila sudah mampir dihadapanmu.   
Sayang, kali ini tak berhasil. Kau tetap diam. Baru kali ini, aku melihatmu sedikit berbeda, tampak lebih serius. Aku seperti tak mengenalmu saja.
“Jangan berikan apapun untukku,”
“Hanya untuk sarapan di perjalanan?” aku setengah memaksa.
Kamu tetap menggeleng sambil berusaha tersenyum.
“Tahukah kau, betapa beratnya bagiku untuk pergi dari tempat ini.  Bahkan sebutir nasi pun bisa memberatkan aku untuk pergi. Jadi, jangan bekali aku dengan apapun hingga aku bisa pergi tanpa beban.” tegasmu.
“Baiklah.” Aku mengalah.
Kau segera bangkit, ketika mendengar aba-aba bahwa kereta yang akan kau tumpangi akan segera berangkat.
“Kau tak akan menungguku, kan?” tanyamu mencoba menggoda.
“Yaa… enggaklah! Ngapain, harus setia sama orang aneh seperti kamu.”
“Lha, bukannya kamu sendiri juga aneh?”
“Iya kali ya! Baru nyadar, he…he…”
Empat menit lebih tujuh detik terasa melaju lebih cepat dari yang seharusnya. Hanya dalam hitungan detik, kepalamu sudah melongok diantara puluhan jendela yang berderet. Tanganmu melambai-lambai mengisyaratkan, agar aku segera mendekat.
“Ngapain lagi?”
“Ada yang lupa!”
“Apa? Pasti, lupa ngasih kenang-kenangan buatku ya!” celotehku.
“Bukan itu, tapi…
“Tapi…apa?” aku mulai penasaran.
“Tapi .. bila sudah tiba masanya nanti, kau harus mengenalkan belahan jiwamu itu padaku.”
“Setuju! Kau juga..!
 “Benar. Mulai saat ini, sebaiknya kita jalani hidup kita masing-masing.”
“Lho, bukannya dari dulu juga seperti itu?”
Ha..ha..
Lambat laun, kereta mulai bergerak makin lama makin cepat hingga bayangannya hilang ditelan kabut. Aku hanya tersenyum simpul. Kau memang tak pernah berubah, selalu tersenyum ceria,  apapun suasana hatimu.
****

Kabar tentang kepergianmu, mulai merebak di rumah singgah kita. Dengan beragam reaksi penghuninya. Ada yang heran dengan kepergianmu yang tiba-tiba, ada yang tak peduli sedikit pun, dan ada pula yang bersyukur ketika kau menghilang.
Aneh! Aku makin tak mengerti, kenapa masih ada orang yang tak bersimpati pada orang sepertimu. Aku kembali teringat obrolan kita, dulu. Ketika kita membahas tentang rasa suka dan benci. Obrolan yang cukup alot hingga membuat kita lupa waktu.
 “Apa yang akan kau lakukan bila tahu ada orang yang membencimu?” tanyaku ingin tahu.
“Ah, biarkan saja! Orang sesempurna Rasulullah pun, masih banyak yang membenci, apalagi orang sepertiku.  Asal jangan kita sendiri yang membenci orang lain.” tanggapmu santai.
Apa yang kau ucapkan, memang benar adanya.  Akan terus kuingat ucapanmu sampai kapan pun. Apalagi ketika rasa benci mulai bersarang dalam hatiku.
Tak terasa, sudah dua Ramadhan kau mengembara di kota hujan. Selama itu pula, tak secuil kabar tentang dirimu yang aku dapatkan. Entahlah, sesibuk apa aktifitasmu disana. Hingga tak punya waktu untuk menghubungiku lagi.
Kini, ponselku selalu sepi. Tak ada lagi miss call, pesan singkat apalagi telepon yang biasa membuatku cemberut tiba-tiba atau tersenyum sekalipun. Semuanya terasa datar, seperti jalur rel kereta yang kau tinggalkan.   
****

Jalanan masih lengang selepas hujan lebat tadi siang. Titik hujan masih menetes, diantara pagar, ranting dan dedaunan. Aku sengaja duduk sendiri di pelataran rumah singgah  sambil menikmati hangatnya secangkir coklat yang masih mengepul. 
Kulirik kembali ponsel yang masih tergeletak di atas meja, masih saja tetap tak bersuara. Hawa dingin makin menyelusup, aku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan agar terasa lebih hangat.
Hening. Tak ada yang dapat kudengar selain rintik air yang tumpah dari langit. Pandanganku kembali menerawang, namun hanyalah deraian gerimis yang aku kenali. Irama hujan selalu mengingatkan aku pada dirimu.
Dinginnya udara, membawa anganku melayang pada kejadian masa silam, ribuan detik jelang kau pergi. Aku tak pernah menyangka kalau saat itulah, miss call terakhir darimu.
Hanya dalam hitungan detik pula, kulihat sebuah bayangan seseorang muncul dari kejauhan, dengan sebuah senyuman terkembang di bibirnya bersama sebatang coklat ditangannya. Perlahan-lahan, bayangan itu semakin mendekat, kemudian menghilang dihadapanku. Ah, ternyata hanya ilusi.
****

Bandung, 26 Januari 2009
* Hanya untuk mengenang petualangan seru di kota hujan

Sama Saja

Entah  angin apa yang membawa orang seperti  dia, bisa mau menjadi pembimbingku. Padahal kita semua tahu kalau kita berdua, sama-sama berasal dari dua kubu yang berbeda. Dia yang  familiar dengan kesusatraannya sedangkan aku yang familiar dengan dunia anak-anak. Benar-benar sangat bertentangan.
Terlepas, dari tawarannya dulu saat mengajakku bergabung ke kelompoknya. Dia memang baik dan ramah pada siapapun. Hingga aku tak pernah enggan untuk terus belajar kepadanya. Biarpun, belum satu pun hasil karyaku yang  dia anggap bagus apalagi layak muat.
Pujian mungkin sudah menjadi hal tabu untuk dia sebutkan untuk mengomentari naskah milik anak didiknya. Paling dia hanya menyebut lumayan dan  selebihnya akan dihiasi dengan beberapa kejelekannya yang berderet- deret. 
Di ujung komentarnya, dia selalu berpesan “Perbaiki lagi naskahnya, nanti serahkan lagi pada saya.”
Aku hanya bilang “Iya, pak…!”
Andai dia tahu, sebenarnya salah satu alasan kenapa  kemampuan menulisku ini tak pernah berkembang pesat, Yaa begitulah… malas memperbaiki naskah yang sudah ada.
Menurutku, memperbaiki naskah itu seratus kali lebih sulit  daripada membuat naskah baru. Daripada memperbaiki naskah yang sudah ada lebih baik mencari ide lain yang lebih segar. Ujung-ujungnya, banyak naskah yang tak pernah rampung.
Usut punya usut, ternyata hobi yang menyesatkan ini bukan hanya milikku seorang. Hampir semua teman-temanku terutama teman yang satu kelompok ikutan setuju.
Ditambah keluhan dari seorang sepupuku. Kebetulan dia seorang penjahit pakaian. Lengkaplah sudah semua alasannya. Membuatku seperti berada diatas angin. Toh, banyak pihak yang setuju dengan pendapatku.
“Aku lebih suka membuat bentuk gaun dari kain yang masih berbentuk bahan utuh  daripada harus memperbaiki bentuk yang sudah ada.” akunya suatu waktu.
Heuh ternyata …., nggak penulis nggak penjahit keluhannya sama saja  
Oh ya, balik lagi ke pembimbingku. Dia itu, selalu menyuruh kami, anak didiknya untuk mengirimkan karya ke beberapa media. Saking seringnya, kami sampai bosan mendengarnya. Kami pikir, dia itu menyebalkan dan terlalu rewel.
Padahal di luar itu semua, seharusnya kami bersyukur memiliki pembimbing yang begitu perhatian seperti dirinya. Sebenarnya, semua omelan dan kecerewetannya selama ini, demi kebaikan kami agar bisa ikut berprestasi. Dan seandainya, impian itu terwujud, tentunya dia adalah orang pertama yang akan bangga.
Ah, entah sudah berapa lama aku jadi anak bimbingnya. Ada satu keinginan untuk membuatnya bangga. Sayangnya, hingga saat ini pun, masih belum ada karyaku yang terlihat sempurna di matanya. Terkadang aku ingin menyerah saja. Namun dalam kesempatan lain, aku bertekad aku bisa membuatnya bangga  dalam  duniaku sendiri.

 
Beranda Azalea, 12 Desember 2009

Senin, 23 Juli 2012

FAQ Menulis Bacaan Anak

Berhubung banyak banget yang inbox, tanya-tanya dan bingung gimana cara memulai, atau menerjuni dunia penulisan bacaan anak, FAQ ini saya susun bersama teman-teman lain, plus ditambahi dari pengalaman pribadi, atau curhat curcol dari para senior. Silakan dibaca-baca, semoga memudahkan langkahmu!

1. Bagaimana menjaga “mood” supaya tetap konsisten dalam menulis?
Mood bisa datang dan pergi kapan saja. Kalo nunggu mood, bisa-bisa kita nggak nulis. Pasti ada aja alasannya. Yang capek lah, yang rumah kayak kapal pecah lah, yang gak ad aide lah, dll. Yang saya pribadi lakukan selama ini, meski mood lagi nggak bagus, saya tetep nulis. Mungkin tulisannya akan jadi jelek, aneh, garing bin jayus, gak apa-apa. Yang penting saya tetap menulis. Kan, menulis nggak seperti melukis? Kalo melukis kanvas mah nggak bisa direvisi.
Nanti, kalau mood saya udah membaik, biasanya saya edit, revise dan rewrite lagi. Jadi, jangan tunggu mood untuk menulis. Tetaplan menulis, meski lagi PMS. Toh, nanti bisa kita edit lagi. Dan, tulislah apa yang kalian suka. Jika lagi bosan nulis cerita anak, boleh kok nulis yang lain. Percayalah, tak ada naskah yang tak berguna. Folder naskah saya, 90% terpakai, meski itu naskah curhat dewasa, dan saya kirim ke media. Entah dimuat ato kagak, yang penting terpakai kan? Kalo dimuat mah alhamdullilah, sesuatu banget, hihi.

2. Apa rahasia membuat bacaan anak yang bagus?
Rahasianya? Ya bacalah bacaan anak yang bagus. Kalo terbiasa membaca bacaan anak yang jelek, pasti tulisan kita jelek. That simple.

3. Bagaimana menulis naskah tanpa menggurui? (baik naskah Islami, maupun tidak)
Bayangkan saja kita jadi anak kecil, bagaimana membaca cerita yang isinya Bu Guru bla bla bla, ibu bla bla bla…dst? Bisa kok dibikin cerita yang asyik, dan hikmah atau pesannya disampaikan. Boleh saja meminjam mulut orang dewasa, tapi mbok ya caranya diperhalus…smooth gitu loh.
Bisa juga dengan adegan-adegan dalam cerita itu, yang menunjukkan anak menemukan sendiri jawabannya. Anak gak harus melulu disodori jawaban oleh ortu ato guru.
Bisa juga melalui tokoh unik dan lucu. Contohnya, buku saya Aida kotak P3K. Isinya kan bener2 "ngajari" anak..apa yang harus kita lakukan jika mengalami kecelakaan kecil. Namun, saya menyiasati dengan tokoh Aida, kotak P3K yang gendut dan lucu. Bukan dengan tokoh Bu Dokter, atau Pak Dokter, yang notabene tante atau om si anak, yang ujug-ujug datang saat si anak kena luka.
Untuk naskah Islami, karena ini termasuk kategori non-fiksi, sedikit banyak pasti ada kesan mengguruinya ya? Saya menyiasatinya dengan menuliskan cerita pendamping, supaya anak bisa lebih memahami apa yang ingin disampaikan.

4. Bagaimana membuat cerita berima yang lentur?
Tentukan dulu mau bikin berima apa? Misalnya pengen bikin berima “ing”. Kumpulkan saja semua kata berakhiran “ing” dan tuliskan dalam selembar kertas. Peras ingatanmu untuk mengeluarkan semua kata berakhiran “ing” itu. Nah, jika sudah terkumpul, bolehlah kita mengutak-atiknya. Biasanya, prosesnya akan jadi amat mudah saat kita udah ngumpulin kata berimanya.
Untuk variasi rima, bisa liat di www.kamusrima.com
Tambahan dari Winarti: untuk Rima bisa dilihat juga di sini: http://www.facebook.com/caracepat.menulispuisi

5. Bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit luar negeri dengan aman?
Belum pernah ngirim, hihi…jadi maaf, kagak teu. Tapi in my humble opinion sih, sebaiknya kontek saja penerbitnya dan tanyakan kepada mereka bagaimana prosedur pengirimannya. Jika penerbit yang kita tuju cukup besar atau punya nama, insya Allah amanlah. Mereka pasti punya SOP tersendiri, dan gak berani main-main. Entah kalo penerbit tina tini alias tipu sana tipu sini  ya.
Tambahan dari DINI Capung Mungil: pernah mencoba dengan nekat kirim ke LN, tapi ternyata kita harus benar-benar jeli membaca semua ketentuan yang ada di web mereka:
  • Mereka tidak akan mengontak kita, jadi anggap saja jika 6 bulan tidak ada respon berarti mereka tidak interest
  • Mereka tidak mau lagi mengirim balik naskah kita jika via pos/kurir
  • Saat ini semua penerbit besar di LN selalu menulis tidak lagi menerima naskah, selalu bilang overload
  • Penerbit LN lebih banyak berhubungan dengan Agency, mereka tidak akan mau menjawab email kita (kalaupun dijawab biasanya dengan template tertentu alias komputer yg jawab hehehe) Semoga membantu ^^

6. Apa yang akan penulis dapatkan jika naskah kita yang sudah terbit di Indonesia, kemudian terbit di LN?
Kalo di surat perjanjian salah satu penerbit sih, tertulis bahwa penulis akan mendapatkan 50% dari nilai kontrak baru ke LN. Nah, masalahnya, kita kan nggak bisa tau nilai kontrak sesungguhnya berapa? Bisa sih, minta ke penerbit untuk nunjukin perjanjian kerja sama mereka ke LN itu, tapi kalo aku enggak mau ah…berbaik sangka saja. Penerbit yang baik hati tentu tak akan memlekoto penulisnya.

7. Bagaimana kita bisa tahu apakah naskah kita diterima atau ditolak oleh penerbit, tanpa harus meneror penerbit?
Setelah mengirim naskah, ada baiknya kita telepon redaksinya. Tanyakan, apakah naskah saya berjudul A sudah diterima? Jika sudah, kira-kira berapa lama redaksi akan memutuskan naskah saya layak terbit atau tidak? Nah, berdasarkan jawaban mereka, gampang kan kita tau kapan naskah kita akan terbit, atau gone with the wind?
Kalo males nelpon, ya pake cara kuno saja. Tunggu sebulan, gak ada respon? Tanyakan….
Dua bulan, tanyakan lagi, sampe 6 bulan ga ada respon, ya bikin saja surat pernyataan penarikan naskah. Jangan tanya surat ini isinya gimana ya? Bisa dong, bikin surat kayak gini. It’s a piece of cake hehe.

8. Mana yang lebih baik, setia pada penerbit itu2 saja, atau mengirim naskah ke banyak penerbit?
Di awal menulis, aku mengirim naskah ke banyak penerbit. Dari situ aku tahu, mana penerbit yang baik hati, mana penerbit yang “aneh” dan mana penerbit yang malas. Dari situ, seleksi alam pun dilakukan. Di posisiku sekarang, aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri, bahwa aku akan LOYAL pada penerbit yang sudah terbukti menerbitkan buku2ku dengan lancar, plus lancar pula membayar royaltinya. Loyal di sini dalam artian, semua naskahku, pertama kali akan kutawarkan ke penerbit-penerbit itu.
Menurutku, mereka sudah berkinerja baik, dan sudah seharusnya kita mensupport mereka dengan naskah2 ciamik kita. Namun, aku juga tetap menulis sedikit-sedikit, yang kutujukan untuk penerbit yang “baru” untukku. Mencoba untuk melakukan seleksi alam lagi :) Hasilnya, beberapa penerbit merespon dengan baik. Semoga kerjasama kami bisa lancar juga di masa yang akan datang.

9. Kenapa naskahku tak pernah dimuat?
Kemungkinannya, naskahmu jelek isi dan jalan ceritanya, naskahmu jelek tata bahasanya, naskahmu jelek cara penulisannya, naskahmu jadul, naskahmu tak ada bedanya dengan naskah-naskah yang sudah dimuat media itu sebelumnya, naskahmu ndak cocok untuk media tersebut (media satu dan lainnya, beda loh “aliran”nya), atau tema yang sama dengan naskahmu udah sering ditemukan di mana-mana. Atau, beberapa orang menulis naskah yang sama ide dan temanya denganmu. Wah, anda kurang beruntung. So, jangan mau jadi penulis yang biasa-biasa saja.

10. Gimana caranya supaya rajin nulis?
Kalo aku pribadi, memang suka menulis sih. Kalo suka, otomatis rajin kan. Suka makan bakso, otomatis rajin nongkrongin abang bakso hehe. Suka ama Bang Ray Sahetapy, otomatis kalo ndak ngliat wajahnya sehari bisa meriang. Demikian dengan menulis, Kalo cinta menulis, pasti rajin kok. Kalo kalian nggak rajin menulis dengan alasan malas, susah dsb, mungkin sebenernya kalian “memaksakan diri” menjadi penulis. Eksplorelah bakat kalian yang lain. Barangkali pemusik, penari, pelukis, atau atlet.

11. Gimana cara memulai membuat cerita anak?
Idem dengan pertanyaan sebelumnya, ya bacalah cerita anak. Dari situ, kamu bisa tahu kok bagaimana memulainya.

12. Gimana supaya cerita tak terhenti di tengah jalan?
Hmmm…kalo mau, bikin saja kerangka karangan sebelum mulai menulis. Begitu terhenti, intip saja kerangka karanganmu. Gampang kan?

13. Bagaimana cara mendapat ide?
Haiyaaaa…ide mah ada di mana-mana. Lalat terbang di hidung kita pun bisa jadi ide. Jadi penulis, harus mengasah panca inderanya dengan baik. Be sensitive booookkk….
Baca buku, baca situasi, baca TV juga bisa jadi ide loh. Tajamkan telinga, dengerkan rumpian tetangga, rumpian anak SD, rumpian tukang sayur, semuanya bisa jadi ide.

14. Bolehkah mengirim ke media lain jika naskah kita tak ada kabar?
Boleh saja, asalkan sebelumnya sudah mengirim SURAT PERNYATAAN MENARIK NASKAH.
Hanya saja, jangan baru ngirim sebulan, lalu udah ngirim surat penarikan. Ntar dipikir kita kagak serius dong.
Kalo dari pengalaman, kan ada tuh yang 1.5 tahun baru diterbitkan. Jadi, kalo kalian mau kirim ke media lain, gimana kalo tunggu 1 tahun dulu ya? Karena biasanya memang antre media itu lama, kecuali naskah kita “istimewa” dalam artian sesuai momen yang mereka cari. Tapi ya terserah, kalo mau narik naskah setelah 6 bulan, up to you. Kalo aku sih, ada yang sampai 2 tahun belum kutarik. Bukan apa-apa…wong aku ya belum tahu itu mau kuapakan? Hehe…penulis malas follow up nih aku.

15. Cerita anak yang bagus tu yang kayak apa? Gimana mengawalinya?
Yang bagus? Ya kayak buku-bukuku itu loh…hahaha…becanda ah! Yang bagus ya tentu cara penyampaiannya empuk, smooth, kata2 sederhana (bukan seadanya) dan tokoh-tokoh yang menarik. Jika ada hikmah atau pembelajaran moral yang hendak disampaikan, ya sampaikan dengan smooth melalui cerita. Bukan dengan petatah petitih secara obvious. Gimana mengawalinya? Ya itu tadi, baca-baca dulu dong..

16. Baca-baca, baca apa dong? Baca buku siapa?
Misalnya, kamu pengen bikin pictorial book. Ya silakan liat2 pictorial book yang ada di toko. Pelajari, lalu tuliskan. Karya Arleen Amidjaja, Ali Muakhir, Endang Firdaus, bisa jadi acuan.
Kalo pengen bikin novel anak, ya baca Enid Blyton, Roald Dahl, Astrid Lindgren, atau penulis2 luar lainnya yang aku juga kagak tau haha. Kalo lokal, Kang Iwok Abqary, Tria Ayu, Ary Nilandari, dan yang terakhir Pak Deny Wibisono, bagus banget kok buku2nya.
Kalo mau membidik majalah, ya silakan baca Bobo. Girls, Mombi, dll. Pelajari, amati, lalu tuliskan ide2mu dengan gayamu sendiri, namun dengan tema yang pas untuk media yang kamu bidik.

17. Apakah harus mengandung pesan moral?
Cerita yang tidak mengandung pesan moral, bukan berarti IMMORAL. Jadi, tak harus memaksakan diri menyisipkan pesan moral dalam suatu cerita. Bisa saja menyisipkan pengetahuan, atau bahkan hanya just for fun saja. Misalnya, ceritaku tentang Nenek Rambut Panjang. Gak ada pesan moralnya kok, hanya bercerita tentang nenek yang punya rambut amat panjang. So, apakah cerita itu termasuk cerita immoral? PDA alias please dong ah..

18. Berapa lama waktu yang dibutuhkan, mulai dari mengirim sampai dimuat di media?
Jika anda beruntung, 2 hari pun bisa terima kabar. Kalo lagi kurang beruntung, bisa sampe 1.5 tahun.
Kalo ngirim naskah ke penerbit, keputusannya bisa paling cepat dalam hitungan menit, dan yang paling lama kira-kira setahun.

19. Bagaimana batasan untuk menggambarkan kesadisan dalam cerita anak, terutama fabel?
Rantai makanan dalam dunia binatang tidak bisa dihindari. Cicak makan nyamuk, singa makan rusa dll. Sah-sah saja kok dituliskan, tapi jangan dijabarkan secara detil. Misalnya: Singa mencabik-cabik rusa dengan giginya yang tajam. Leher rusa menganga, darah segar mengucur dari sana. Rusa merintih, matanya berkedip-kedip seolah menahan rasa sakit yang amat parah. Pelan-pelan, singa menguliti rusa dll dll.  Hiiiiyyyy…..

20. Tips agar naskah lolos ke penerbit?
Kenali karakter buku2 penerbit itu, telpon/email redaksinya, tawarkan naskah kita (yang tentunya senafas dengan mereka) dan kirimkan. Pastikan naskahmu benar2 rapi, lengkap, dan bagus. Be strong to your script!

21. Bagaimana cara menulis naskah anak supaya sesuai dengan usia yang dibidik?
Amati anak-anak seusia itu. Kalau yang dibidik usia 4-6 tahun, ya bahasanya tentu beda dengan anak usia 8 tahun. Kagak punya anak yang bisa diamati? Kenapa nggak ngamati buku sejenis yang ditujukan untuk usia itu?

22. Bolehkah naskah yang berbeda bahasa, dikirim ke dua media berbeda? Misalnya, Jayabaya dan Kompas?
Setahu saya, syarat mengirim ke media adalah tidak pernah dimuat di media yang lain. Namun, karena ini adalah beda bahasa, mungkin ada baiknya kamu menanyakan ke redaksi ybs. Misalnya, cerpen kamu udah dimuat di Jayabaya, tentu udah kenal dong ama redaksinya? Coba tanyakan dengan sopan, apakah jika naskah ini saya kirimkan ke media lain, masih boleh? Vice versa, saat kita mengirimkannya ke media lain (setelah dpt ijin dari Jayabaya), kasi tau bahwa ini naskah yang udah dimuat oleh Jayabaya, dalam bahasa Jawa. Intinya, komunikasikan semuanya agar tak ada pihak yang merasa tersakiti. Halah…bahasaku, haha..

23. Apakah harus punya seorang illustrator untuk menulis cerita anak?
Tergantung, jika kamu mau nulis untuk media, ya nggak perlu. Mereka punya tim illustrator sendiri. Beda halnya jika kamu mau kirim ke penerbit, dan yang kamu kirim itu pictorial book. Ada baiknya kamu mengirim naskah dilengkapi dengan sample ilustrasi. Supaya penerbit mendapat gambaran, seperti apa sih buku ini nantinya? Namun, andaikata tidak melampirkan sample ilustrasi pun, tak apa-apa kok. Siapa sih yang menolak naskah yang amat baguuuuusss, meski gak pake sample ilustrasi pun penerbit akan dengan ikhlas suka rela menerima naskahmu kok. Nantinya, penerbit akan membantu kita mencari2 ilustrator yang cocok, atau bisa juga dari tim mereka sendiri, atau kita yang disuruh nyari. So, konsentrasi dululah pada naskahmu. Hasilkan naskah yang ciamik, jangan mikiri ilustrasi dulu…nanti malah gak nulis2.

24. Bagi alamat majalah anak dong, atau list penerbit-penerbit yang OK. Yang kagak pake lama, kagak pake ribet, dan lancar bayar royaltinya.
Hmmm…semua alamat majalah, semua alamat penerbit, bisa ditemukan di masing-masing majalah, atau buku terbitan penerbit itu. Silakan dicatat, sekalian dipelajari karakter buku2 dan majalah-majalah itu.
Percayalah, hanya mendapat list tanpa mengetahui karakteristik mereka, percuma.

25. Duit saya cekak, mana bisa beli majalah atau buku2 gitu?
Pernah denger kata “perpustakaan”? Pernah denger kalimat “pasar buku loak”? Atau pernah denger kalimat “numpang baca di lapak majalah, padahal cuma beli koran seharga 2rb?”
Come on, mau dapet ikan gede ya kudu pake umpan gede dong.

26. Kenapa sih, kok penerbit atau media tertentu maunya nerima hardcopy? Hari gini gitu loh, mbok ya email. Jaman udah canggih gini kok masih surat2an. Huh!
Jangan salah, justru mereka yang menerapkan hardcopy itu, melindungi kepentingan kita lho. Meski terasa tak praktis, terasa jadul, tapi sebenernya mereka melindungi kita. Jika kita kirim softcopy, dalam beberapa detik saja naskah kita bisa ada di Timbuktu atau Zimbabwe, lalu diakui sebagai naskah milik Donal Bebek yang lagi liburan di sono.
Minggu lalu, saat gathering penulis salah satu penerbit di Jakarta, mereka juga menandaskan, bahwa hardcopy adalah demi keamanan si penulis. Apalagi jika editor di penerbit itu sering gonta-ganti. Siapa yang bisa mencegah si editor untuk mengkopi naskah kita ke flashdiscnya dan membawanya kabur?

Namun, jika sudah saling percaya dan mereka mengijinkan softcopy, ya why not? Lebih enak, murah, dan praktis. Tapi kalo ada yg menerapkan hardcopy, ya jangan ngomel karena sebenarnya alasannya untuk kebaikan kita sendiri kok.

27. Enak mana, jual putus ato royalti?
Aku pribadi lebih melihat siapa penerbitnya. Jika mereka grup besar, aku pilih royalti. Jika mereka penerbit baru, atau penerbit kecil yang aku tahu distribusinya kurang bagus, marketingnya kurang bagus, ya aku pilih jual putus. Selesai urusan, duit di tangan, laku ndak laku nggak ada efeknya buat aku. Daripada sakit hati royalti nggak dibayar, atau terima royalti sekian puluh ribu rupiah.Oya, jika kantong cekak, aku pilih royalti. Jika kantong tebel, pilih jual putus :)

Tambahan dari Watiek Ideo:
28. Duh, gimana caranya dapet kenalan ilustrator? Aku kuper bgt :(
Gampang! Di FB ada banyak ilustrator yg berseliweran. Coba aja buka FB Kelir Monthly Theme, di situ para ilustrator menunjukkan kebolehannya tiap bulan dengan memajang karya2nya. Kita bisa kontak mrk jika ingin kerjasama. Jika sdh ada kandidat, minta mereka utk membuat 1 halaman sampel utk naskah kita, sehingga penerbit mendapat gambaran ttg ilustrasi mana yg diinginkan :)

29. Bagaimana cara kerjasama dg ilustrator?
Ada banyak cara.
pertama: Jika naskah kita lolos utk diterbitkan, maka kita bisa membuka lowongan utk pengerjaan ilustrasi. Selama ini (pengalaman pribadi), penerbit sll membayar fee ilustrasi dr para ilustrator. Sistem pembayarannya bisa beragam, tergantung masing2 penerbit. Ada yg beli putus per halaman, sistem royalti ada DP, atau murni royalti (tanpa DP). Usahakan, hal ini sejak awal dibicarakan dg ilustrator, agar sepakat dulu dg sistemnya, sebelum proses ilustrasi dimulai.
kedua: Kita yg membayar sendiri semua ilustrasi. Ada penerbit tertentu yg menyukai naskah kita diajukan lengkap dengan ilustrasinya. So, kita musti membayar sendiri jasa ilustrator. Saran saya, kirim dulu saja naskah tanpa ilustrasi, krn blm tentu penerbit cocok dg ilustrasi yg kita ajukan. Sayangkan?

Sumber: http://yumbwee.multiply.com/journal/item/67/FAQ_Menulis_Bacaan_Anak

Dompet Baru

"Cieee, ada yang punya dompet baru, nih!" cetuluk Dinny yang baru tiba di kostan. "Iya, hehe... Dompet dibeliin Emih pas mu...